Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj

Kajian al-Quran selalu mengalami perkembangan yang dinamis seiring dengan akselerasi perkembangan kondisi sosial-budaya dan peradaban umat manusia. Hal ini terbukti dengan munculnya karya-karya tafsir, mulai dari yang klasik hingga kontemporer dengan berbagai corak, metode dan pendekatan yang digunakan. Keinginan umat islam untuk selalu mendialogkan al-Qur’an sebagai teks yang terbatas dengan problem sosial kemanusiaan yang tak terbatas merupakan spirit tersendiri bagi dinamika kajian tafsir al-Qur’an[[1]].

Tafsir sendiri bermakna ilmu yang membahas keadaan Al-Qur’an dari segi tujuan Allah (dalam ayat-ayat-Nya), dan dari segi kemukjizatannya, dengan kadar kemampuan manusia yang memahaminya. Dari sini, tafsir adalah penjelasan Al-Qur’an. Al-Qur’an yang terkadang bersifat umum, susah dipahami, memiliki berbagai kemungkinan, perlu adanya penjelasan lebih lanjut, supaya Al-Qur’an dapat dicerna oleh seluruh kalangan dan dijadikan rujukan dan panduan dalam kehidupan.

Model penafsiran seorang mufassir lazimnya dilatarbelakangi keilmuan yang dikuasainya, walaupun ada sebagian mufassir yang menulis tafsir dari latar belakang yang berbeda dari basic keilmuan yang dimilikinya. Prof. Dr. Wahbah al-Zuhayli merupakan seorang tokoh ulama fiqh abad ke-20 yang terkenal dari Syuria. Namanya sebaris dengan tokoh-tokoh Tafsir dan Fuqaha yang telah berjasa dalam dunia keilmuan Islam abad ke-20, seperti Tahir Ashur yang mengarang tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Said Hawwa dalam Asas fi al-Tafsir, Sayyid Qutb dalam Fi Zilal al-Quran. Sementara dari segi fuqaha, namanya sebaris dengan Muhammad Abu Zahrah, Mahmud Shaltut, Ali Muhammad   al-Khafif, Abdul Ghani, Abdul Khaliq dan Muhammad Salam Madkur.[[2]]

Sebagian besar tafsir kontemporer di warnai dengan berbagai latar belakang keilmuan mufassir, Wahbah az-Zuhaili seorang ahli Fiqh yang berusaha menguraikan ayat-ayat al-Qur’an, dengan sumber, metode, corak, dan karakteristik yang khas.

Wahbah al-Zuhaily: Karir Akademis & Karya Ilmiahnya

Nama pengarang Tafsir al-Munir adalah Prof. Dr. Wahbah bin Mushthafa az-Zuhaili Abu `Ubadah. Ia dilahirkan di kawasan Dir `Athiyah pada tanggal 6 Maret 1932 dari orang tua yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaannya. Ayahnya, Musthafa az-Zuhaili, adalah seorang penghafal Al-Qur’an dan banyak melakukan kajian terhadap kandungannya. Ibunya bernama Fathimah binti Musthafa Sa`dah, dikenal dengan sosok yang kuat berpegang teguh pada ajaran agama.[[3]]

Lazimnya anak-anak pada saat itu, Wahbah kecil belajar Al-Qur’an dan menghafalnya dalam waktu relatif singkat. Setelah menamatkan sekolah dasar, ayahnya menganjurkan kepada Wahbah untuk melanjutkan sekolah di Damaskus. Pada tahun 1946, Wahbah pindah ke Damaskus untuk melanjutkan sekolah ke tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Setelah itu, Wahbah melanjutkan ke perguruan tinggi dan meraih gelar sarjana mudanya di jurusan Ilmu-ilmu Syari`ah di Syuria.

Dalam menuntut ilmu, Wahbah tidak memadakan di negerinya sendiri. Ia harus mencari universitas yang lebih baik. Untuk itu, ia pendah ke Mesir, dan kuliyah di dua universitas sekaligus: Universitas Al-Azhar, jurusan Syari`ah dan Bahasa Arab; dan Universitas Ain Syams, jurusan Hukum. Setelah menyelesaikan kuliyah di dua universitas tersebut, Wahbah melanjutkan pada jenjang berikutnya, program magister Universitas Cairo, jurusan Hukum Islam. Hanya dalam waktu dua tahun, Wahbah menyelesaikan program magisternya dengan judul tesis adz-Dzara’i` fi as-Siyasah asy-Syar`iyyah wa al-Fiqh al-Islamiy.

Semangat menuntut ilmu Wahbah tidak putus, ia melanjutkan pendidikannya sampai jenjang doktoral. Dengan judul penelitian Atsar al-Harb fi al-Fiqh al-Islamiy: Dirasatan Muqaranatan, ia berhasil menyelesaikan program doktoralnya pada tahun 1963. Majlis sidang pada saat itu terdiri dari ulama terkenal, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, dan Dr. Muhammad Hafizh Ghanim (Menteri Pendidikan Tinggi pada saat itu). Majlis sidang sepakat untuk menganugrahkan Wahbah predikat “Sangat Memuaskan” (Syaraf ula), dan merekomendasikan disertasinya layak cetak serta dikirim ke universitas-universitas luar negri.

a. Karir Akademis

Setelah memperoleh ijazah Doktor, pekerjaan pertama Syaikh Wahbah Az Zuhailli adalah staf pengajar pada Fakultas Syariah, Universitas Damaskus pada tahun 1963 M, kemudian menjadi asisten dosen pada tahun 1969 M dan menjadi profesor pada tahun 1975 M. Sebagai guru besar, ia menjadi dosen tamu pada sejumlah universitas di negara-negara Arab, seperti pada Fakultas Syariah dan Hukum serta Fakultas Adab Pascasarjana Universitas Benghazi, Libya; pada Universitas Khurtum, Universitas Ummu Darman, Universitas Afrika yang ketiganya berada di Sudan. Beliau juga pernah mengajar pada Universitas Emirat Arab.

Beliau juga menghadiri berbagai seminar internasional dan mempresentasikan makalah dalam berbagai forum ilmiah di negara-negara Arab termasuk di Malaysia dan Indonesia. Ia juga menjadi anggota tim redaksi berbagai jurnal dan majalah, dan staf ahli pada berbagai lembaga riset fikih dan peradaban Islam di Siria,Yordania, ArabSaudi,Sudan, India, dan Amerika.

b. Karya Ilmiah

Syaikh Wahbah Az Zuhaili sangat produktif menulis, mulai dari artikel dan makalah sampai kepada kitab besar yang terdiri atas enam belas jilid. Dr. Badi` As Sayyid Al Lahham dalam biografi Syaikh Wahbah yang ditulisnya dalam buku yang berjudul, Wahbah Az Zuhaili al -`Alim, Al Faqih wa Al  Mufassir menyebutkan 199 karya tulis Syaikh Wahbah selain jurnal. Demikian produktifnya Syaikh Wahbah dalam menulis sehingga Dr. Badi` mengumpamakannya seperti Imam As Suyuthi (w. 1505 M) yang menulis 300 judul buku di masa lampau.

Di antara karyanya terpenting adalah:

  • Al  Fiqh Al Islami wa Adillatuh, At Tafsir Al Munir
  • Al Fiqh Al Islami fi uslubih Al Jadid
  • Nazariyat Adh Dharurah Asy Syari`ah
  • Ushul Al Fiqh Al Islami
  • Az Zharai`ah fi As Siyasah Asy Syari`ah
  • Al `Alaqat ad-Dualiyah fi Al Islam
  • Juhud Taqnin Al Fiqh Al Islami
  • Al Fiqh Al Hanbali Al Muyassar.

Mayoritas kitab menyangkut fiqih dan ushul fiqih. Tetapi, ia juga menulis kitab tafsir sampai enam belas jilid:

  • At Tafsir Al Wasith tiga jilid
  • Al I`jaz fi Al-Qur’an
  • Al Qishshah Al-Qur’aniyah

Hal ini menyebabkan Syaikh Wahbah juga layak disebut sebagai ahli tafsir. Bahkan, ia juga menulis tentang akidah, sejarah, pembaharuan pemikiran Islam, ekonomi, lingkungan hidup, dan bidang lainnya. Jadi, Syaikh Wahbah bukan hanya seorang ulama fikih, tetapi juga ia adalah seorang ulama dan pemikir Islam peringkat dunia.[[4]]

Tafsir al-Munir: Metode, Corak, Sistematika dan Contoh Penafsiran

At-Tafsir al-Munir: fi al-`Aqidah wa asy-Syari`ah wa al-Manhaj adalah nama lengkap tafsir ini. Tafsir ini yang menjadi pembahasan dalam makalah ini. Tafsir ini terdiri dari 16 jilid besar, tidak kurang dari 10.000 halaman. Untuk pertama kali, kitab ini diterbitkan pada  tahun 1991 oleh Dar al-Fikr Damaskus. Sebagaimana buku fikihnya, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, ditulis dengan tujuan untuk memudahkan para pengkaji ilmu ke-Islaman, begitu juga dalam tafsirnya ini. Wahbah menjelaskan dalam muqaddimah tafsirnya:

“Tujuan utama dalam pemakalahan kitab ini adalah mengikat umat Islam dengan Al-Qur’an yang merupakan firman Allah dengan ikatan yang kuat dan ilmiah. Sebab, Al-Qur’an adalah pedoman dan aturan yang harus ditaati dalam kehidupan manusia. Konsen saya dalam kitab ini bukan untuk menjelaskan permaslahan khilafiyah dalam bidang fikih, sebagaimana dikemukakan para pakar fikih, akan tetapi sayang ingin menjelaskan hukum yang dapat diambil dari ayat Al-Qur’an dengan maknanya yang lebih luas. Hal ini akan lebih dapat diterima dari sekedar menyajikan maknanya secara umum. Sebab Al-Qur’an mengandung aspek aqidah, akhlak, manhaj, dan pedoman umun serta faedah-faedah yang dapat dipetik dari ayat-ayat-Nya. Sehingga setiap penjelasan, penegasan, dan isyarat ilmu pengetahuan yang terekam di dalamnya menjadi instrumen pembangunan kehidupan sosial yang lebih baik dan maju bagi masyarakat modern secara umum saat ini atau untuk kehidupan individual bagi setiap manusia.”[[5]]

Pemakalahan tafsir Munir dilatarbelakangi oleh pengabdian Wahbah az-Zuhaili pada ilmu pengetahuan, khususnya ilmu keislaman, dengan tujuan menghubungkan orang muslim dengan al-Qur’an berdasarkan hubungan logis dan erat. Tafsir ini ditulis setelah beliau selama rentang waktu 16 tahun setelah selesai menulis dua buku lainnya, yaitu Ushul Fiqh al-Islamy (2 jilid) dan al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu (8 Jilid)[[6]]. Tafsir al-Munir diterbitkan pertama kali oleh Darul Fikri Beirut-Libanon dan Dar al-Fikri Damsyiq Suriya dalam 16 jilid pada tahun 1991 M/1411 H.

a. Metode Penafsiran

Munurut pakar tafsir al-Azhar University, Dr. Abdul Hay al-Farmawi, dalam kitabnya al-Bidayah fi al-Tafsir al-maudhu’i, menyebutkan setidaknya dalam penafsiran Al-Qur’an dikenal empat macam metode tafsir, yakni metode tahlili, metode ijmali, metode muqaran, dan metode maudhu’i.

Untuk tafsir al-Munir sendiri, sebenarnya sulit bagi pemakalah untuk menetapkan metode yang mana digunakan oleh Wahbah dalam tafsirnya ini. Di beberapa tempat, Wahbah menggunkan metode tafsir tematik (maudhu`i), di sisi yang lain, ia menggunakan metode perbandingan (muqaran), namun, dalam banyak kesempatan ia menggunakan metode tafsir analitik (tahlili). Agaknya, metode yang terakhir, metode analitik, lebih cocok, karena metode inilah yang lebih dominan digunakan oleh Wahbah dalam tafsirnya.

Untuk langkah sistematika pembahasan dalam tafsirnya ini, Wahbah, menjelaskan dalam muqaddimah tafsirnya, sebagai berikut:[[7]]

1. Mengklasifikasikan ayat Al-Qur’an – dengan urutan mushaf – yang ingin ditafsirkan dalam satu judul pembahasan dan memberikan judul yang cocok.

2. Menjelaskan kandungan setiap surat secara global/umum.

3. Menjelaskan sisi kebahasaan ayat-ayat yang ingin ditafsirkan, dan menganalisanya.

4. Menjelaskan sebab turun ayat – jika ada sebab turunnya -, dan menjelaskan kisah-kisah sahih yang berkaitan dengan ayat yang ingin ditafsirkan.

5. Menjelaskan ayat-ayat yang ditafsirkan dengan rinci.

6. Mengeluarkan hukum-hukum yang berkaitan dengan ayat yang sudah ditafsirkan.

7. Membahas kesusastraan dan i`rab ayat-ayat yang hendak ditafsirkan.

Dalam pembacaan pemakalah terhadap kitab Tafsir al-Munir, ada satu hal yang sangat menarik, yang mungkin tidak disebutkan Wahbah dalam muqaddimahnya ini adalah, ketika menafsirkan kumpulan ayat, Wahbah tidak lupa menjelaskan korelasi (munasabat) antar ayat. Wahbah juga menjelaskan bahwa pada tempat-tempat tertentu, ia membahas ayat-ayat tertentu dengan sistematika tafsir tematik/maudhu`i. Sebagai contoh ketika menafsirkan ayat-ayat yang menceritakan tentang jihad, hukum kriminan, warisan, hukum nikah, riba, khamar, dll.[[8]]

b. Corak Penafsiran

Sebagaimana disebutkan oleh Menurut Quraish Shihab, ada enam corak penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang dikenal selama ini, yaitu:

1. Corak sastra bahasa

2. Corak filsafat dan teologi

3. Corak penafsiran ilmiah

4. Corak fikih atau hukum

5. Corak tasawuf

6. Corak sastra budaya kemasyarakatan.

Menurut Dr. Abdul Hay al-Farmawi, dalam tafsir tahlili ada beberapa corak penafsiran, yakni tafsir bi al-Ma`tsur, tafsir bi ar-Ray`, tafsir ash-Shufi, tafsir al-Fiqhi, tafsir al-Falsafi, tafsir al-`Ilmi, dan tafsir al-Adabi al-Ijtima`i.

Dalam menentukan corak tafsir dari suatu kitab tafsir, dalam hal ini adalah Tafsir al-Munir, yang diperhatikan adalah hal yang dominan dalam tafsir tersebut. Jika disejajarkan dengan pembagian corak tafsir yang diajukan oleh al-Farmawi, maka  corak tafsir al-Munir -dengan melihat kriteria-kriteria yang ada-, pemakalah dapat simpulkan bahwa tafsir tersebut bercorak ‘addabi ‘ijtima’i dan fiqhi, karena memang  Wahbah az-Zuhaili mempunyai basik keilmuan Fiqh yang hebat. Hebatnya lagi, tafsirnya itu beliau sajikan dengan gaya bahasa dan redaksi yang sangat teliti, penafsirannya juga disesuaikan dengan situasi yang berkembang dan dibutuhkan dalam di tengah-tengah masyarakat.

c. Sistematika

Secara sistematika sebelum memasuki bahasan ayat, Wahbah az-Zuhaili pada setiap awal surat selalu mendahulukan penjelasan tentang keutamaan dan kandungan surat tersebut, dan sejumlah tema yang terkait dengannya secara garis besar. Setiap tema yang diangkat dan dibahas mencakup tiga aspek, yaitu: Pertama, aspek bahasa, yaitu menjelaskan beberapa istilah yang termaktub dalam sebuah ayat, dengan menerangkan segi-segi balaghah dan gramatika bahasanya.

Kedua, tafsir dan bayan[[9]], yaitu deskripsi yang komprehensif terhadap ayat-ayat, sehingga mendapatkan kejelasan tentang makna-makna yang terkandung di dalamnya dan keshahihan hadis-hadis yang terkait dengannya. Dalam kolom ini, beliau mempersingkat penjelasannya jika dalam ayat tersebut tidak terdapat masalah, seperti terlihat dalam penafsirannya terhadap surat al-Baqarah ayat 97 sampai 98 [[10]]. Namun, jika ada permasalahan diulasnya secara rinci, seperti permasalahan nasakh dalam ayat 106 dari surat al-Baqarah.[[11]]

Ketigafiqh al-hayat wa al-ahkam, yaitu perincian tentang beberapa kesimpulan yang bisa diambil dari beberapa ayat yang berhubungan dengan realitas kehidupan manusia. Dan ketika terdapat masalah-masalah baru dia berusaha untuk menguraikannya  sesuai dengan hasil ijtihadnya.

Az-Zuhaili sendiri menilai bahwa tafsirnya adalah model tafsir al-Qur’an yang didasarkan pada al-Qur’an sendiri dan hadis-hadis shahih, mengungkapkan asbab an-nuzul dan takhrij al-hadis, menghindari cerita-cerita Isra’iliyat, riwayat yang buruk, dan polemik, serta bersikap moderat.[[12]]d. Contoh Penafsiran

Dalam pembahasan ini, pemakalah mengutip cuplikan Tafsir al-Munir, ketika menafsirkan alif lam mim sebagai pendahuluan surat al-Baqarah. Wahbah menjelaskan:

 “Allah mendahului surat ini dengan huruf muqaththa`ah sebagai pengingat terhadap sifat Al-Qur’an, dan isyarat kemukjizatannya, sebagai tantangan terhadap orang yang ingin membuat Al-Qur’an bahkan dengan surat yang terpendek sekalipun, sebagai penetap yang pasti bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah yang tidak ada sedikitpun campur tangan manusia. Seolah-olah Allah berkata kepada orang Arab, “Bagaimana bisa kamu lemah untuk menjadikan sepenggal surat yang semisalnya. Bukankah itu juga bahasa Arab, yang terdiri dari huruf hijaiyah yang kamu kenal. Tetapi kamu lemah untuk membuat semisalnya.” Ini adalah pendapat ulama muhaqqiqin yang mengatakan bahwa peletakan huruf muqaththa`ah ini sebagai penjelasan kemukjizatan Al-Qur’an, dan orang Arab lemah untuk meniru hal yang serupa, padahal kata itu juga terdiri dari bahasa Arab yang mereka kenal.”[[13]]

Setelah itu, Wahbah menuliskan hadis Rasul Saw. yang menjelaskan, “Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka untuknya satu kebaikan yang dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas`ud). Hal ini menunjukkan bahwa, walaupun alif lam mim, mungkin tidak memiki makna khusus, namun Allah juga menetapkan pahala bagi orang yang membacanya.

Kemudian, Wahbah menjelaskan tiga sifat Al-Qur’an: pertama, Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna, yang kandungannya – mulai dari makna, tujuan, kisah-kisah, dan pensyariatah – tidak kurang sedikit pun. Kedua, tidak ada keraguan pada Al-Qur’an sebagai firman Allah, tentunya bagi orang yang menkajinya secara mendalam dan menggunakan mata hatinya. Ketiga, Al-Qur’an adalah sumber hidayah dan petunjuk bagi orang yang beriman dan bertakwa, yang takut dengan azab Allah, menjunjung tinggi perintah dan menjauhi larangan Allah.[[14]]

Analisis Kelebihan dan Kelemah

Banyak sekali kelebihan tafsir ini, selain memiliki pengantar tafsir yang sangat bermanfaat bagi setiap pembaca sebagai perbekalan ilmu untuk masuk dalam tafsir Al-Qur’an. Pengantar itu berisikan seputar ilmu-ilmu Al-Qur’an, dari mulai pengertian, sebab turun, kodifikasi, makkiyah madaniyah, rasm mushaf, qiraat, i`jaz, sampai terjemahan Al-Qur’an.

Tafsir ini mudah dicerna bahkan oleh orang asing (a`jami), karena bahasa yang digunakan sangat sederhana, dan tidak seperti bahasa kitab-kitab klasik yang terkadang memusingkan kepala. Selain itu, kitab ini disusun dengan sistematika yang manarik, tidak amburadul, sehingga pembaca dengan mudah mencari apa yang diingikannya, walaupun tidak membaca secara keseluruhan. Tafsir ini juga mengarahkan pembaca pada tema pembahasan setiap kumpulan ayat-ayat yang ditafsirnya, karena tafsir ini membuat sub bahasan dengan tema yang sesuai dengan ayat yang ditafsirkan. Selain mengaitkan ayat dengan ayat yang semakna, melalui musabat dan lain-lain, tafsir ini juga memudahkan bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan hukum atau hikmah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena Wahbah sendiri, di penghujung pembahasan, menyimpulkan ayat yang ditafsirkan dengan pembahasan Fiqh al-Hayah au al-Ahkam.

Untuk kelemahan, sulit bagi pemakalah untuk mencari kelemahan tafsir ini. Karena tafsir ini adalah kumpulan dari buku-buku tafsir klasik dan kontemporer. Seolah-olah pengarang menutup kekurangan yang ada dalam suatu tafsir dengan tafsir yang lain, sehingga penafsirannya menjadi sempurna. Namun, satu hal yang mungkin perlu disadari bahwa dengan menggabungkan tafsir-tafsir yang ada, seolah-olah pemakalah tidak mengungkapkan suatu tafsiran baru yang sesuai dengan kehidupan modern sekarang, dan ini adalah suatu kelemahan. Yang dilakukan oleh Wahbah az-Zuhaily hanya mengutip dan melakukan sistematika pembahasan yang lebih rapi dari tafsir-tafsir yang

Penutup

Dari pembahasan singkat di atas, ada beberapa hal yang menjadi kesimpulan bersama. Pertama, nama tafsir ini adalah at-Tafsir al-Munir: fi al-`Aqidah wa asy-Syari`ah wa al-Manhaj. Kitab ini dikarang oleh ulama kontemporer benama Prof. Dr. Wahbah bin Musthafa az-Zuhaily, seorang ulama berasal dari Syria, dan pernah “nyantri” di Al-Azhar University.

Kedua, metode tafsir mencolok yang digunakan oleh Wahbah adalah metode tafsir analitik/tahlili, dengan corak ‘addabi ‘ijtima’i dan fiqhi.Ketiga, walau tafsir ini memiliki kelemahan, yakni seolah hanya mengutip dan jarang sekali memberikan tafsiran baru yang sesuai dengan konteks kehidupan modern, namun kelebihannya sangat dominan, dan berbekas di hati para pembacanya. Dengan kelebihannya ini, seolah kelemahan dan kekurangannya tidak terlihat.

Daftar Pustaka

1. Az-Zuhaily, Wahbah, Tafsir al – Munir (Damaskus : Darul Fikr, 1991) jilid 1.

2. Mustaqim,  Abdul, Epistemologi Tafsir Kontemporer (Yogyakarta: Lkis, 2011).

3. http://www.fimadani.com/syaikh-wahbah-az-zuhaili/, diakses pada 10 Juni 2013.

4. M. Arifin Jahari, dalam sebuah artikel yang berjudul Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily dan Tafsir al-Munir, dalam http://studitafsir.blogspot.com/2012/12/prof-dr-wahbah-az-zuhailiy-dan-tafsir.html,  diakkses pada 09 Juni 2013.


[1] Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer (Yogyakarta: Lkis, 2011), hal. 01.

[2] Mohd Rumaizuddin Ghazali,  Wahbah Al-Zuhayli : Mufassir dan Ahli Fiqh Terkenal Abad ini, http://www.abim.org.my/minda_madani/userinfo.php?uid=4, diakkses pada 09 Juni 2013.

[3] M. Arifin Jahari, dalam sebuah artikel yang berjudul Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaily dan Tafsir al-Munir, http://studitafsir.blogspot.com/2012/12/prof-dr-wahbah-az-zuhailiy-dan-tafsir.html diakkses pada 09 Juni 2013.

[5] Wahbah az-Zuhaily, dalam Muqaddimah Tafsir al – Munir (Damaskus : Darul Fikr, 1991) hal. 06, terjm. & ringkasan Oleh Pemakalah.

[6] Ibid., hal. 11. (Lihat footnote)

[7] Ibid., hal. 09.

[8] Ibid.

[9] Bayan, dapat dilihat di setiap tema penafsirannya, yang dimaksud di sini adalah penjelasan dan penafsiran ayat sesuai dengan argumen beliau dengan dukungan beberapa sumber dari bidang kajian yang berhubungan, seperti kajian fiqh dia akan mengambil pendapat beberapa imam mazhab dan dianalisis sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, di mana ketika ada argument dari imam madzhab yang kurang cocok dengan kondisi zaman sekarang maka beliau memasukan pendapatnya dengan argument yang logis, berbeda dengan bayan yang dimaksud dalam tafsir Bintu Syati’ yang merupakan bayan dalam kajian sastra Arab.

[10] Wahbah mengupas secara singkat dalam menafsiri ayat ini, yang isinya tentang sikap Yahudi terhadap Jibril, para Malaikat dan para Rasul. Lihat penafsiran Wahbah, Tafsir Munir…., h.232-237.

[11] Ayat ini membahas tentang penetapan naskh al-ahkam asy-syar’iyyah, di mana Wahbah menafsiri ayat ini secara rinci dari terjadinya naskh dalam al-Qur’an sampai macam-macam bentuk naskh yang ada dalam al-Qur’an dan hukum syar’i.  Lihat Wahbah, Tafsir munir…, h.257-267.

[12] Wahbah az-Zuhaily, dalam Muqaddimah Tafsir al – Munir (Damaskus : Darul Fikr, 1991) hal. 06, terjm. & ringkasan Oleh Pemakalah.

[13] Wahbah az-Zuhaily, Tafsir al – Munir (Damaskus : Darul Fikr, 1991) hal. 73, terjm. Oleh Pemakalah.

[14] Ibid., hal.74.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s