Tafsir Al-Azhar Karya Prof. Dr. Hamka

IBARAT intan, Al-Qur’an dengan segala sudutnya mampu memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut yang lain, dan tidak mustahil jika anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak dari pada apa yang anda lihat”. Ilustrasi ini menggambarkan kepada kita bahwa al-Qur’an sebagai sebuah teks telah memungkinkan banyak orang untuk melihat makna yang berbeda-beda di dalamnya. Dengan berbagai metodologi yang disuguhkan, para mufassir kerap terlihat mempunyai corak sendiri yang sangat menarik untuk ditelusuri. Dari mulai menafsirkan kata perkata dalam setiap ayat sampai menyambungkannya dengan masalah fikih, politik, ekonomi, tasauf, sastra, kalam, dan lainnya.

Pada dasarnya, Agama memang sangat membutuhkan tafsir untuk memudahkan umatnya memahami makna pesan Tuhan dalam kitab sucinya. Pemahaman tafsir itu pulalah yang akhirnya harus membuka kajian konseptual dan historis. Secara konseptual , agama dapat dikaitkan sebagai “komunitas tafsir”, sehingga kajian terhadap agama itu pada dasrnya adalah penafsiran terhadap tafsir.[[1]]

Sementara secara historis, agama mempresentasikan adanya keragaman penafsiran yang sangat erat berkaitan dengan latar belakang historis masing-masing pandangan, bahkan sering terjadi ketegangn dalam agama, misalnya antara kalangan yang berpola piker liberal dan yang berpola piker ortodok, dimana tentunya kedua kalangan ini memiliki pola penafsiran yang berbeda terhadap agama mereka.

Salah satu kitab tafsir yang terbit di Indonesia adalah Tafsir al-Azhar karya Hamka. Tafsir ini dikenal salah satu tafsir yang memberikan khazanah keilmuan yang cukup menarik dari sisi kebahasaan, maupun penyajian reasoning yang ada didalamnya.

HAMKA DAN KISAH PENULISAN TAFSIR AL-AZHAR 

Tafsir ini ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah (atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yang merupakan singkatan namanya). Beliau lahir disebuah desa bernama Tanah Sirah, dalam Nagari Sungai Batang, di tepi Danu Maninjau, pada 13 Muharram 1362 H, bertepatan dengan 16 Februari 1908 M. Ayahnya, Syekh Abdul Karim bin Amrullah adalah seorang pengukir. Latar sosial tersebut yang mempunyai hasarat besar pula agar anaknya kelak mengikuti jejak dan langkah yang telah diambilnya sebagai orang ulama’. Hamka mengisahkan itu dalam autobiografinya, tatkala ia dilahirkan, ayahnya Syekh Abdul Karim bin Amrullah berguma, “Sepuluh tahun”. Dan ketika beliau ditanya apa makna sepuluh tahun itu, beliau menjawab: “sepuluh tahun dia kan dikirim belajar ke Makkah, supaya kelak dia menjadi alim seperti aku pula, seperti neneknya dan seperti nenekneneknya yang dulu”.[[2]]

Keulamaan, predikat yang telah diwarisi Hamka secara geologis, membawa ia memasuki alam bawah sadarnya, sehingga keulamaan ini pulalah yang dipilih oleh Hamka sebagai kawasan untuk menampilkan dirinya dalam berbagai ragam aktivitas, yakni sebagai sastrawan, budayawan, ilmuwan Islam, Muballligh, pendidik, bahkan menjadi politisi. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati. Ayahnya Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, juga merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

Pendidikan formalnya hanya sampai SD, tetapi banyak belajar sendiri (otodidak), terutama dalam bidang agama. Keahliannya dalam Islam diakui dunia internasional sehingga kemudian mendapat gelar kehormatan dari Universitas Al-Azhar (1955) dan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (1976).

Tahun 1924 mulai merantau ke tanah Jawa untuk belajar antara lain kepada HOS Cokroaminoto, lalu aktif dalam organissi Muhammadiyah. Tahun 1927 berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian menetap di Medan di mana ia aktif sebagai ulama dan bekerja sebagai redaktur majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam (1938-1941). Pada waktu itu ia mulai banyak menulis roman, sehingga timbul heboh karena ada pihak yang tidak setuju kiai mengarang roman. Di antara roman yang ditulisnya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938),Merantau ke Deli (1940), Di Dalam Lembah Kehidupan (1940; kumpulan cerita pendek), Ayahku (1949; merupakan riwayat hidup dan kisah perjuangan ayahnya).

Di zaman Orde Lama pernah meringkuk dalam tahanan beberapa tahun. Dalam kesempatan itulah ia menyelesaikan Tafsir Al-Azhar-nya. Hamka banyak sekali menulis buku tentang Islam, seluruhnya ratusa judul. Beliau adalah imam masjid Al-Azhar Kebayoran. Pernah memimpin majalah Panji Masyarakat yang terbit sejak 1959. Sementara itu sejak tanggal 21 Mei 1981 Hamka meletakkan jabatannya selaku ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). HAMKA meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981.

Adapun karya-karya Hamka antara lain:

1. Di Bawah Lindungan Ka’bah                    6. Adab Minangkabau dan Agama Islam (1928)

2. Si Sabariyah (1928)                                     7. Kepentingan Tabligh (1928)

3. Agama dan Perempuan (1928)                8. Ayat-ayat Mi’raj (1928)

4. Merantau ke Deli (1928)                             9. Tasawwuf Modern

5. Ringkasan Tarikh Umat Islam (1928)   10. Falsafah Hidup

11. Pembela Islam:Tarich Sayyidina Abu Bakar (1928)

12. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1932)

13. Tuan Direktur

14. Kenang-kenangan Hidup (1979)

15.Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sematera (1982)

16. Tafsir al-Azhar (1984)

KISAH PENULISAN TAFSIR AL AZHAR 

Sebelum betul-betul masuk dalam tafsir ayat Al-Qur’an, sang mufasir terlebih dahulu memberikan banyak pembukaan, yang terdiri dari:  Kata Pengantar, Pandahuluan, Al-Qur’an, I’jâz Al-Qur’an, Isi Mu’jizat Al-Qur’an, Al-Qur’an Lafaz dan Makna, Menafsirkan Al-Qur’an, Haluan Tafsir, Mengapa Dinamai “Tafsir Al-Azhar”, dan terakhir Hikmat Ilahi.

Dalam Kata Pengantar, Hamka menyebut beberapa nama yang ia anggap berjasa bagi dirinya dalam pengembaraan dan pengembangan keilmuan keislaman yang ia jalani. Nama-nama yang disebutnya itu boleh jadi merupakan orang-orang pemberi motivasi untuk segala karya cipta dan dedikasinya terhadap pengembangan dan penyebarluasan ilmu-ilmu keislaman, tidak terkecuali karya tafsirnya. Nama-nama tersebut selain disebut Hamka sebagai orang-orang tua dan saudara-saudaranya, juga disebutnya sebagai guru-gurunya. Nama-nama itu antara lain, ayahnya sendiri yang merupakan gurunya sendiri, Dr. Syaikh Abdulkarim Amrullah, Syaikh Muhammad Amrullah (kakek), Abdullah Shalih (Kakek Bapaknya).[[3]]

Tafsir ini pada mulanya merupakan rangkaian kajian yang disampaikan pada kuliah subuh oleh Hamka di masjid al-Azhar yang terletak di Kebayoran Baru sejak tahun 1959. Ketika itu, masjid belum bernama al-Azhar. Pada waktu yang sama, Hamka dan K.H. Fakih Usman dan H.M. Yusuf Ahmad, menerbitkan majalah Panji Masyarakkat.[[4]]

Baru kemudian, Nama al-Azhar bagi masjid tersebut diberikan oleh Syeikh Mahmud Shaltut, Rektor Universitas al-Azhar semasa kunjungan beliau ke Indonesia pada Desember 1960 dengan harapan supaya menjadi kampus al-Azhar di Jakarta. Penamaan tafsir Hamka dengan nama Tafsir al-Azhar berkaitan erat dengan tempat lahirnya tafsir tersebut yaitu Masjid Agung al-Azhar.

Terdapat beberapa faktor yang mendorong Hamka untuk menghasilkan karya tafsir tersebut. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Hamka dalam mukadimah kitab tafsirnya. Di antaranya ialah keinginan beliau untuk menanam semangat dan kepercayaan Islam dalam jiwa generasi muda Indonesia yang amat berminat untuk memahami al-Quran, tetapi terhalang akibat ketidakmampuan mereka menguasai ilmu Bahasa Arab. Kecenderungan beliau terhadap penulisan tafsir ini juga bertujuan untuk memudahkan pemahaman para muballigh dan para pendakwah serta meningkatkan keberkesanan dalam penyampaian khutbah-khutbah yang diambil daripada sumber-sumber Bahasa Arab. Hamka memulai Tafsir Al-Azharnya dari surah al-Mukminun karena beranggapan kemungkinan beliau tidak sempat menyempurnakan ulasan lengkap terhadap tafsir tersebut semasa hidupnya.

Mulai tahun 1962, kajian tafsir yang disampaikan di masjid al-Azhar ini, dimuat di majalah Panji Masyarakat. Kuliah tafsir ini terus berlanjut sampai terjadi kekacauan politik di mana masjid tersebut telah dituduh menjadi sarang “Neo Masyumi” dan “Hamkaisme”. Pada tanggal 12 Rabi’ al-awwal 1383H/27 Januari 1964, Hamka ditangkap oleh penguasa orde lama dengan tuduhan berkhianat pada negara. Penahanan selama dua tahun ini ternyata membawa berkah bagi Hamka karena ia dapat menyelesaikan penulisan tafsirnya.

Penerbitan pertama Tafsir al-Azhar dilakukan oleh penerbitan Pembimbing Masa, pimpinan Haji Mahmud. Cetakan pertama, merampungkan penerbitan dari juz pertama sampai juz keempat. Kemudian diterbitkan pula juz 30 dan juz 15 sampai juz 29 oleh Pustaka Islam Surabaya. Dan akhirnya juz 5 samapai juz 14 diterbitkan oleh Yayasan Nurul Islam Jakarta.

BENTUK, METODE DAN CORAK PENAFSIRAN 

Howard M. Federspiel, memasukkan Tafsir al-Azhar pada rumpun tafsir generasi ketiga. Yaitu sezaman dengan Tafsir al-Bayan karya ash-Siddieqy dan Tafsir al-Qur’anul Karim karya Halim Hasan[[5]]. Tafsir generasi ini, mulai muncul pada 1970-an, merupakan penafsiran yang lengkap. Kegiatan penafsiran pada generasi ini sering kali memberi komentar-komentar yang luas terhadap teks bersamaan dengan terjemahannya. Generasi ini memiliki bagian pengantar dan indeks yang tanpa diragukan lagi memperluas isinya, tema-temanya atau latar belakang (turunya) al-Qur’an.[[6]]

Namun, ada pula yang mengatakan bahwa generasi Buya Hamka bersama para mufassir yang sezaman dengannya adalah generasi kedua setelah Prof. Mahmud Yunus bersama rombongannya. Dikatan generasi kedua karena terjadi perbedaan yang begitu jelas dari generasi yang lalu. Yaitu selain tafsir yang berbahasa Indonesia, pada periode ini tafsir yang berbahasa daerah pun tetap beredar di kalangan pemakai bahasa tersebut, seperti al-Kitabul Mubin karya K.H. Muhammad Ramli dalam bahasa Sunda (1974) dan kitab al-Ibriz oleh K.H. Bisri Musthafa dalam bahasa Jawa (1950).

a. Bentuk Penafsiran

Dalam pengantarnya, Hamka menyebutkan bahwa ia memelihara sebaik-baiknya hubungan diantara naql dan akal (riwayah dan dhirayah). Penafsir tidak hanya semata-mata mengutip atau menukil pendapat orang yang terdahulu, tetapi mempergunakan juga tinjauan dari pengalaman sendiri. Dan tidak pula semata-mata menuruti pertimbangan akal sendiri, seraya melalaikan apa yang dinukil dari orang terdahulu. Suatu tafsir yang hanya menuruti riwayat dari orang terdahulu berarti hanya suatu “Textbox thinking”. Sebaliknya, jika hanya memperturutkan akal sendiri besar bahanya akan keluar dari garis tertentu yang digariskan agama, sehingga dengan disadari akan menjauh dari maksud agama.[[7]]

Mazhab yang dianut oleh penafsir ini adalah mazhab salaf, yaitu mazhab Rasulullah dan sahabt-sahabat beliau dan ulama’-ulama’ yang mengikuti jejak beliau. Dalam hal aqidah dan ibadah semata-mata taslim, artinya menyerah dengan tidak banyak tanya lagi. Tetapi dalam hal yang menghendaki pemikiran (fiqhi), penulis tafsir ini tidaklah semata-mata taqlid kepada pendapat manusia, melainkan meninjau mana yanag lebih dekat kepada kebenaran untuk didikuti, dan meninggalkan mana yana jauh menyimpang. Tafsir yang amat menarik ini yang dibuat contoh adalah Tafsir al-Manar karya Sayyid  Rasyid Ridha berdasarkan atas ajaran Tafsir gurunya Syeikh Muhammad Abduh.

b. Metode Analitik (tahlili)

Melihat karya Hamka ini maka metode yang dipakai adalah metode  Tahlili  (analisis) bergaya khas tartib mushaf. Dalam metode ini biasanya mufassir menguraikan makna yang dikandung al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat sesuai dengan urutanya dalam mushaf.

Uraian tersebut menyangkut berbagai aspek yang dikandung ayat yang ditafsirkan seperti pengertian kosakata, konotasi, kalimatnya, latar belakang turunya ayat, kaitan dengan ayat lain (munasabah), tidak ketinggalan dengan disertakan pendapat pendapat yang telah diberikan berkenaan dengan tafsiran ayat-ayat tersebut, baik yang dismpaikan oleh Nabi, Sahabat, maupun para tabi’in dan ahli tafsir lainya.

c. Corak Kombinasi al-Adabi al-Ijtima’i Sufi

Corak yang dikedepankan oleh Hamka dalam Al-Azhar adalah kombinasi al-Adabi al-Ijtima’i Sufi. Corak ini (social kemasyarakatan) adalah suatu cabang dari tafsir yang muncul pada masa modern ini, yaitu corak tafsir yang berusaha memahami nash-nash al-Qur’an dengan cara pertama dan utama mengemukakan ungkapan-ungkapan al-Qur’an secara teliti, selanjutnya menjelaskan makna-makna yang dimaksud oleh al-Qur’an tersebut dengan gaya bahasa yang indah dan menarik. Kemudian seorang mufassir berusaa menghubungkan nash yang dikaji dengan kenyataan social dan system budaya yang ada.

Sementara menurut  al-Dzahabi, yang dimaksud dengan al-Adabi al-Ijtima’i adalah corak penafsiran yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an  berdasarkan ketelitian  uangkapan-ungkapan yang disusun dengn bahasa lugas, dengan menekankan tujuan pokok diturukanya al-Qur’an, lalu mengaplikasikanya pada tatanan social, seperti pemecahan masala umat islam dan bangsa umumnya, sejalan dengan perkembangan masyarakat.

Jenis tafsir ini muncul sebagai akibat ketidak puasan para mufassir yang memandang bahwa selama ini penafsiran al-Qur’an  hanya didominasi oleh tafsir yang berorientasi pada nahwu, bahasa, dan perbedaan madzhab, baik dalam bidang ilmu kalam, fiqh, ushul fiqh, sufi, dan lain sebagainya, dan jarang sekali dijupai tafsir al-Qur’an yang secara khusus menyentuh inti dari al-Qur’an , sasaran dan tujuan akirnya.

Secara operasional, seorang mufassir jenis ini dalam pembahasnya tidak mau terjebak pada kajian pengertian bahasa yang rumit, bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana dapat menyajikan tafsir al-Qur’an yang berusaha mengeitkan nash dengan relitas kehidupan masyarakat, tradisi social dan system peredaban, yang secara fungsioanal dapat memecahkan problem umat.

Menurut al-Dzahabi, bahwa corak penafsiran al-Adabi al Ijtima’I – terlepas dari kekurangannya – berusaha mengemukakan segi keindahan (balaghoh) bahasa dan kemu’jizatan al-Qur’an, menjelaskan ma’na-ma’na dan ssaran-sasaran yang dituju oleh al-qur’an, mengungkapkan hokum-hukum alam yang agung dan tatanan kemasyarakatan yang dikandungnya membantu memecahkan segala problem yang dialami umat islam khususunya dan umat islam umumnya melalui petunjuk dan ajaran al-Qur’an yang karnannya dapat diperoleh kbaikan dunia dan akherat, serta berusaha mempertemukan antara al-Qur’an dengan teori-teori ilmiah yang benar. Di dalamnya juga berusha menjelaskan kepada umat manusia bahwa al-Qur’an itu adalah kitab suci yang kekal, yang mampu bertahan sepanjang perkembangan zaman dan kebudayaan manusia sampai akhir masa, juga berusaha melenyapkan kebohongan dan keraguan yang dilontarkan terhadap al-Qur’an dengan argumen yang kuat yang mampu menangkis segala kebathilan, sehingga jelas bagi mereka bahwa al-Qur’an itu benar.

Adapun penggagas corak tafsir al-Adabi al-Ijtima’i adalah Muhammad Abduh, tokoh pembaharu terkenal asal Mesir, dengan kitab tafsirnya al-Manar yang disusun dengan muridnya Muhammad Rasyid Ridha. Diantara kitab tafsir yang ditulis dengan corak al-Adabi al-Ijtima’i selain tafsir al-Manar adalah Tafsir al-Qur’an  karya Syeikh Muhammad al-Maraghi, Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Syeikh Muhammad Syaltu, dan Tafsir al-Wadhih karya Muhammad Mahmud Hijazy.

Sedangkan corak sufinya banyak diperlihatkan dengan teknis pendekatkan terhadap tasawuf, hal tersebut ditandai dengan banyaknya ragam pemikiran tasawuf yang ditunjukkan Hamka. Oleh sebab itu tasawuf Hamka lebih Nampak modern di dalam menerjemahkan ma’na Tuhan secara posistif.

Contoh ayat

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui. (QS. Al-An’am:103)

Hamka menafsirkan ayat ini : Pandangan mata yang selemah peralatannya ini tidaklah dapat mencapai untuk melihat Allah. Sebab itu janganlah pula kamu bodoh, sehingga kamu tidak percaya akan adanya Allah lantaran matamu tidak dapat melihat Dia. Yang dapat dicapai oleh penglihatan mata hanyalah sedikit sekali dari alam ini. Beribu-ibu penglihatan mata terkecoh oleh yang dilihat. Walaupun yang dilihat itu barang yang nyata. Betapa banyaknya benda, yang dari jauh kelihatan indah, seumpama puncak gunung, tetapi setelah kita sampai di puncaknya ternyata yang indah itu tidak ada.

Penafsiran Prof. Hamka di atas memperlihatkan kepada kita suatu wawasan yang cukup luas ; namun dia menuju ke suatu titik, yakni memberikan kesadaran kepada umat bahwa mereka adalah mahkluk yang lemah dari segala segi, baik fisik maupun pemikiran. Sehingga mereka tidak sanggup mencapai Allah. Bahkan untuk mengetahui hakikat diri mereka sendiripun mereka tidak mampu, bagaimana mungkin mereka dapat menjangkau hakikat Allah yang Maha Halus dan Maha Tahu itu.

Penafsiran yang diberikan Hamka tersbut tampak kepada kita amat menyentuh hati, sehingga kita segera sadar akan kelemahan kita. Kecuali itu, penafsiran Hamka tersebut diungkapkannya dalam bahasa yang indah dan enak dibaca oleh semua orang; sehingga baik pembaca, maupun pendengarnya tidak merasa bosan mengikutinya.

Dari penfsiran Hamka itu dapat disimpulkan bahwa meskipun hanya digunakan satu metode tafsir yaitu analisis, namun tidak tertutup kemungkinan bagi mufassir untuk berkreasi dengan menghasilkan corak-corak tafsir bervariasi apakah umum ataupun kombinasi dan sebagainya. Jadi penerapan suatu metode tidak akan mengekang pemikiran seorang mufassir.

KEIMPULAN

Dari deskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Hamka adalah seorang pemikir muslim progresif dan tokoh Muhammadiyah yang rela berkorban dalam memperjuangkan islam hingga dia dipenjara. Namun maksudnya dia ke penjara bukan menjadi hambatan dalam berkarya, justru di dalam sel kata itu ia hanya menyelesaikan penulisan Tafsir al-Azhar.
  2. Tafsir al-Ahar adalah salah satu tafsir karya warga Indonesia yang dirujuk atau dianut dari Tafsir al-Manar karya Muhammad Abdu dan Rasyid Ridha.
  3. Melihat ciri khas yang ada dalam tafsir karya Hamka tersebut, maka Nampak metode tahlili (analisis) bergaya tertib mushaf dan corak kombinasi al-Adabi al-Ijtima’i-Sufi.

DAFTAR PUSTAKA

 

1. Chamami, M. Rikza, Studi Islam Kontemporer (Pustaka Rizki Putra: Semarang, 2002).

2. Federspiel, Howard M, Kajian al-Qur’an di Indonesia, terjm. Oleh Tajul Arifin (Mizan: Bandung, 1996).

3. Hamka, Tafsir al-Azhar (pembimbing Masa: Jakarta, 1970).


[1]Rikza Chamami dalam Studi Islam Kontemporer (Pustaka Rizki Putra: Semarang, 2002), hal. 113. (Ia mengutip dari Mohammad Nor Ichwan, Tafsir ‘Ilmy: Memahami al-Qur’an Melalui Pendekatan Sains Modern (Menara kudus Jogjakarta: Yogyakarta, 2004).

[2] Rikza Chamami dalam Studi Islam Kontemporer (Pustaka Rizki Putra: Semarang, 2002), hal. 121.

[3] Hamka, Tafsir al-Azhar (pembimbing Masa: Jakarta, 1970) dalam kata pengantar, VII.

[4]Ibid., hal. 44, Juz I.

[5] Howard M. Federspiel, Kajian al-Qur’an di Indonesia, terjm. Oleh Tajul Arifin (Mizan: Bandung, 1996), hal. 137.

[6] Ibid., hal.129.

[7] Hamka, Tafsir al-Azhar (pembimbing Masa: Jakarta, 1970), hal. 36.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s