Hermeneutika Fazlur Rahman

Abstarck

Teori baru tentang pembacaan Al – Qur’an yang ditawarkan oleh Fazlur Rahman adalah  Duoble Movement. Teorinya yang paling terkenal ini adalah sebuah teori gerakan ganda yang menukik ke arah sejarah untuk menemukan ideal moral suatu ayat dan membawa ideal moral itu kepada konteks kekinian. Tujuannya jelas, yaitu suatu proyeksi Qur’ani atas segala dinamika yang timbul dalam masyarakat kontemporer, dengan misi akhir pembentukan masyarakat Islam. menyimpulkan teori hermeneutika Rahman sebatas gerakan ganda saja, barangkali sama halnya dengan menyimpulkan bahwa Islam atau Al – Qur’an hanya berisi aturan hukum semata. Harus diakui kecenderungan seperti itulah yang sering dan banyak kita anut.

Kata kunci : Double Movement, Fazlur Rahman

Pendahuluan

Al – Qur’an, dalam tradisi pemikiran Islam, telah menelorkan sederetan teks turunan yang demikian luas dan mengagumkan. Teks-teks turunan itu merupakan teks ke dua – bila Al – Qur’an dipandang sebagai teks pertama – yang menjadi pengungkap dan penjelas makna-makna yang terkandung didalamnya. Teks kedua ini kemudian dikenal sebagai literatur tafsir Al – Qur’an; ditulis oleh para ulama dengan kecenderungan dan karakteristik masing-masing, dalam berjilid-jilid kitab tafsir.

Tafsir Al – Qur’an, merupakan suatu wilayah intelektual yang semakin mendesak dalam proses pemecahan masalah umat. Sejak munculnya gerakan reformisme islam yang melintang diabad modern (abad 19) yang dikomandani oleh Sayyid Ahmad Khan ( w 1898), Muhammad Abduh (1905),  Abul Kalam Azad (w 1959) dan lain-lain telah menyemarakkan “euphoria” gerakan pemikir islam modern yang mendesak pemikiran islam ortodoks yang terbukti “mandul” dan hanya memberikan  kejumudan dan stagnanasi pemikiran islam. Gerakan semacam ini dimaksudkan untuk memberi angin segar guna menciptakan ruang baru yang lebih dinamis dan progresif.

JIKA ada pertanyaan siapa pemikir besar Muslim di abad ke-20, tentu nama Fazlur Rahman patut disebut. Betapa tidak, ide-idenya tanpa disadari telah membuahkan revolusi pemikiran. Ide-ide yang diarahkan untuk mengkritisi rancang bangun keilmuan Islam itu telah membekas dan mendatangkan ilham bagi banyak pemikir Muslim.dalam buku ini rahman juga “membantai habis” dikotomi ilmu ala imam al-Ghazali, yang mengkotak-kotakkan ilmu menjadi ilmu agama dan non-agama, dan mencampakkan filsafat, padahal mencampakkan filsafat sama artinya dengan bunuh diri intelektual.

Apa yang signifikan dari ide-ide fazlur Rahman? Bagaimana metodologinya? Terlebi dahulu disepakati bahwa ide besar Fazlur Rahman bertumpu pada Al – Qur’an, yaitu bagaimana memahami Al – Qur’an. Dengan demikian, metodologi yang digagasnya berkenaan dengan interpretasi teks. Menariknya, metodologi itu bukan ilmu tafsir – dalam pengertian konvensional – seperti lazimnya. Justru ia mengkritisi ilmu tafsir itu. Metodologinya adalah Hermeneutika. Ya, sebua perangkat pemahaman teks yang bersumber dari barat. Rahman mengapresiasi temuan barat modern, tapi dengan tetap mengakomodasi ide-ide ulama tradisional.  Adagium tradisional “tradisi lama yang baik tetap terpelihara tapi temuan baru yang lebih baik harus diadopsi” berlaku di buku ini. Kemudian, kajian ini selanjutnya akan dinikmati sebagai upaya pengungkapan 2 pertanyaan besar, yaitu pertama,  sejauh mana kontribusi konsep hermeneutika Fazlur Rahman sebagai metodologi, dan kedua, bagaimana aplikasinya dalam mekanisme istinbat hukum islam.

Sketsa Akademis Fazlur Rahman

Fazlur Rahman lahir di Hazara Pakistan 21 September 1919. Ia lahir di tengah suasana perseteruan tiga kubu, kaum modernis, tradisionalis, dan fundamentalis. Kaum modernis merumuskan Negara Islam dalam bingkai ideologi modern. Kaum tradisionalis menawarkan konsep Negara Islam tradisional; khilafah dan imamah. Sedangkan kaum fundamentalis mengusung ide ‘kerajaan Tuhan’. Latar belakang ini menjadi pemicu baginya untuk mendalami seluk-beluk keilmuan Islam dan berbagai metodologi pemikiran. Di  tengah perdebatan inilah, setelah menyelesaikan studinya di Lahore dan Oxford University, Rahman tampil mengemukakan gagasan pembaharuannya.

Rahman, dibesarkan dalam keluarga dengan tradisi Mazhab Hanafi yang kuat, sebuah Mazhab Sunni yang lebih bercorak rasional dari pada mazhab Sunni lainnya. Sekalipun ia pengikut Sunni, namun pemikirannya pada masa belakangan sangat kritis terhadap Sunni juga terhadap Syi’i. Fazlur Rahman mempelajari ilmu-ilmu Islam secara formal di Madrasah. Selain itu, ia juga menerima pelajaran dari ayahnya, seorang ulama dari Deoband. Ia telah menghafal Al-Qur’an di luar kepala dalam usia 10 tahun, dan pada umur 14 tahun ia mulai belajar filsafat, bahasa, Arab, teologi, tafsir, dan hadits.

Setelah menamatkan pendidikan menengah di madrasah, Ia melanjutkan studinya di Departemen Ketimuran, Universitas Punjab. Pada tahun 1940 ia menyelesaikan program Bachelor of Art (BA), dua tahun kemudian yakni tahun 1942, ia berhasil meraih gelar MA, dalam sastra Arab. Sekalipun ia terdidik dalam lingkungan pendidikan Islam tradisional, sikap kritis mengantarkan jati dirinya sebagai seorang pemikir yang berbeda dengan kebanyakan alumni madrasah. Sikap kritis yang menggambarkan ketidakpuasan terhadap sistem pendidikan tradisional, terlihat dari keputusannya studi ke Barat untuk memperoleh gelar Philosphy Doctor (Ph.D) di Oxford University, Inggris. Pada tahun 1946, satu tahun sebelum Pakistan mendeka ia berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Oxford University. Keputusannya merupakan awal sikap kontroversi Rahman. Keputusannya untuk melanjutkan studi Islamnya ke Barat, Oxford, bukan tanpa alasan yang kuat. Kondisi obyektif masyarakat Pakistan belum mampu menciptakan iklim intelektual yang solid.

Pada tahun 1949, Rahman menyelesaikan studi doktornya di Oxford University dengan mengajukan disertasi tentang Ibnu Sina. Setelah menjadi doktor ia memilih untuk tinggal di barat selama bberapa tahun dengan mengajar di Universitas Durham untuk beberapa waktu, kemudian ia pindah ke Institute of Islamic Studies di Mc Gill University, Montreal, Kanada sebagai Associate Professor of Phylosophy sampai tahun 1960. Kemudian pada tahun itu ia kembali ke tanah kelahirannya atas permintaan presiden Ayyub Khan, untuk berpartisipasi dalam membangun negara Pakistan. Pada Tahun 1962 ia memimpin Islamic Research Institute dan pada tahun 1964 ia menjadi anggota The Advisory Council of Islamic Ideology (Dewan penasehat idelogi Islam). Di sinilah ia mulai mencurahkan ide-de pembaruannya. Tetapi pembaruan yang ditaearkannya mendapat tantangan keras dari agama sayap kanan. Penentangan terhadap Fazlur Rahman mencapai puncaknya pada bulan September 1967 ketika dia menyatakan bahwa Al-Qur’an secara keseluruhan adalah kalam Allah. Namun, dalam pengertian biasa, Al-Qur’an juga seluruhnya perkataan Muhammad, akibat pernyataannya itu ia dituduh sebagai Munkirul Qur’an.

Pada tahun 1970 ia memutuskan hijrah ke Amerika dan langsung dinobatkan menjadi guru besar pemikiran Islam di Cihcago University. Universitas tersebut merupakan tempat yang banyak menelurkan banyak karyanya. Tempat ini pula yang menjadi tempat persinggahan terakhirnya, hingga wafatnya pada 26 juli 1988.  Keputusannya hijrah ke Chicago didasarkan pada pengalaman pengabdiannya di Pakistan, negeri dan tanah airnya sendiri. Bahwa Pakistan dan negeri-negeri Muslim lainnya belum siap menyediakan lingkungan kebebasan intelektual yang bertanggung jawab. Ia bukanlah seorang tokoh parsial dalam aspek pemikiran tertentu, misalnya teologi, filsafat, hukum Islam dan sebagainya, tetapi ia hampir-hampir mengkaji dan menguasai segala aspek pemikiran Islam dalam posisi yang hampir merata. Keseluruhan pemikiran Rahman merupakan wujud dan kesadarannya akan krisis yang dihadapi Islam dewasa ini, di mana krisis tersebut sebagian berakar dalam sejarah Islam sendiri, dan sebagian lagi adalah tantangan modernitas. Dengan tengah modernitas dewasa ini, ia mengabdikan potensi intelektualnya untuk mengatasi krisis tersebut. Ia adalah muslim pertama yang menerima medali Giorgio Levi della Vida, yang melambangkan puncak prestasi dalam bidang studi peradaban Islam dari Gustave E. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies UCLA. Di antara karya-karyanya yang pernah dipublikasikan adalah: (1) Prophecy in Islam, London, 1958 : (2) Ibnu Sina, De Amina, (teks berbahasa Arab), Oxford, 1959 : (3) Islam; (4) Major Themes of the Qur’an, (5) Islamic Methodology in History, Islam abad, 1969. (6) Islam and Modernity Transformation of an Intellectual Tradition, Chicago, 1982, dan beberapa tulisan lainnya.

Neo-Modernisme

Situasi sosial masyarakat ketika Rahman dilahirkan diwarnai dengan terjadinya perdebatan publik di antara tiga kelompok yang bersetru; modernis; teradisionalis, dan fundamentalis, ide dan gagasan yang diperdepatkan oleh tiga kelompok yang bersetru ialah seputar masalah bagaimana membentuk negara Pakistan pasca merdeka dari India.

Kelompok modernis merumuskan konsep kenegaraan berdasarkan ideologi modern. Kelompok tradisionalis  menawarkan konsep kenegaraan yang didasarkan atas teori-teori politik tradisional islam yaitu khilafah dan imamah. Sedangkan kaum fundamentalis mengusulkan konsep kenegaraan “Kerajaan Tuhan”. Perdebatan ini terus berlanjut hingga melahirkan konstitusi dengan amandemennya. Di tengah fenomena sosial inilah kelak Rahman tampil mengemukakan gagasan neo-modernismenya.[[1]] Melalui sikap yang menghargai secara positif sekaligus kritis terhadap warisan pemikiran Islam, gerakan pembaruan neo-modernisme berupaya menghilangkan ketegangan antara aliran ortodoksi / tradisionalis dan modernis. Ia sendiri pernah mengaku sebagai juru bicara neo-modernisme ini. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa gerakan yang dirintis Fazlur Rahman ini ialah sebagai respon atas kekurangan gerakan-gerakan sebelumnya.

Neomodernisme, sebagai gerakan yang mengatasi ketagangan berfikir antara kelompok ortodoks dengan kelompok modernis yang diusung oleh Fazlur Rahman yang mengklaim dirinya sebagai juru bicaranya. Kelompok ini tidak lepas dari pengaruh neo-revivalisme, kelompok ini juga tidak menjaga jarak dengan barat, tetapi mengembangkan sikap kritis terhadapnya secara objektif.[[2]]  Mulai dari sini pengkajian Islamic Studies perspektif Insider mulai menunjukan kecendrungan yang cukup kritis-objektif.

Karenananya, dalam konteks ini, Rahman mencanangkan suatu penyusunan metodologi yang tepat dan logis untuk mengkaji Al – Qur’an. Metodologinya tak lain adalah Hermeneutika Al – Qur’an. Rahman yakin bahwa metodologi yang ia maksudkan itu semaksimal mungkin terhindar dari ijtihad yang tidak bertanggung jawab. Metodologi tersebut diharapkan dapat melakukan rekontruksi sistematis atas Islam namun tetap berpegang pada akar-akar spiritualnya. Metodologi ini tentu saja diandaikan mampu menjawab berbagai kebutuhan dan permasalahan Islam kontemporer, tanpa bertekuk kepada barat atau menafikannya. Rahman melihat bahwa teks-teks keagamaan musim yang bersumber dari abad pertengahan, baik hukum maupun ideologi, tidak mampu memberi bimbingan menyeluruh terhadap kehidupan muslim dimasa sekarang.

Hermeneutika sebagai tawaran metodologis: Memahami Hermeneutika Al – Qur’an Fazlur Rahman

Menyuguhkan hermeneutika Fazlur Rahman bukanlah pekerjaan sederhana, sesederhana membaca buku-bukunya. Metodologi tafsir al-Qur’an Fazlur Rahman dinisbatkan dengan hermeneutika, bukan tafsir,  ta’wil dalam pengertian konvensional sebagaimana yang lazim digunakan oleh para mufasir. Rahman sendiri tidak pernah mengklaim jenis hermeneutika yang dianutnya. Namun karena teori interpretasinya menampakkan kebaruan dan progresivitas, para pengamat menggolongkan dalam kajian hermeneutika.  Ada tiga kata kunci dalam memahami hermeneutika al-Qur’an Fazlur Rahman, yakni pendekatan sosio-historis, teori gerakan ganda, dan pendekatan sitetis-logis.

Dari ketiga kata kunci diatas, langkah prosedural Rahman dapat diringkas menjadi 2 bagian: pertama, pentingnya pendekatan histori sembari memperbaiki aspek sosiologinya –  yang kemudian disingkat menjadi pendekatan sosio – histori –  dalam memahami ayat-ayat Al – Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan masalah social; kedua, pentingnya pembedaan antara ketetapan legal spesifik dengan tujuan atau “Ideal Moral” Al – Qur’an yang kemudian disebut dengan teori double Movement atau gerakan ganda.[[3]] Berikut ini, masing-masing dari ketiganya akan diperluas pembahasannya.

A. Pendekatan Sosio – Historis

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melihat kembali sejarah yang melatari turunnya ayat. Ilmu asbabun nuzul sangat penting dalam hal ini. Atas dasar apa dengan motif apa suatu ayat diturunkan akan terjawab lewat pemahaman terhadap sejarah. Pendekatan historis hendaknya dibarengi dengan pendekatan sosiologis, yang khusus memotret kondisi sosial yang terjadi pada masa al-Qur’an diturunkan. Dalam ranah sosiologis ini, pemahaman terhadap al-Qur’an akan senantiasa menunjukkan elastisitas perkembangannya tanpa mencampakkan warisan historisnya. Dengan demikian universalitas dan fleksibilitas al-Qur’an senantiasa terpelihara.[[4]]

Dengan pengadopsian sumber-sumber periwayatan yang sahih dan didukung oleh hukum akal, Rahman menerapkan pendekatan sosio-historis. Pendekatan ini dipandangnya sebagai satu-satunya cara yang bisa diterima dan dapat berlaku  adil terhadap tuntunan intelektual dan moral. Melalui pendekatan ini pula, umat islam dapat mempertimbangkan lebih lanjut nilai-nilai perkembangan yang terjadi dalam sejarah. Sebagaimana ditulis oleh Rahman:

Tugas utama dalam menangani Islam dan disipilin-disiplin keislaman secara historis sejauh ini hanya dilakukan oleh sarjana-sarjana barat. Sebab, mereka telah mengembangkan metode-metode dan perangkat-perangkat yang lebih baik. Padahal, hal itu mestinya menjadi tugas yang harus dilaksanakan oleh umat Islam sendiri. Ini karena, pertama, kecermatan dan kemenyeluruhan menuntut usaha terjun dalam skala besar seperti itu. Kedua, umat islamlah yang membutuhkan kajian historis ini supaya mereka dapat mempertimbangkan lebih lanjut nilai perkembangan historis ini guna merekontruksi disiplin-disiplin keislaman dimasa datang.[[5]]

Di sini perlu dibedakan antara Islam normatif dan Islam historis. Pembedaan ini sekaligus merespon kesalahan ulama klasik yang disatu sisi terlena dengan beragam doktrin Islam yang telah menjadi sejarah, disisi alain, kehilangan kemandirian untuk memahami Islam. Mereka terkesan menghentikan laju deras sejarah pergerakan ilmu-ilmu Islam. Akibatnya, ilmu-ilmu Islam tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Pun, dalam kondisi seperti itu, kajian-kajian keislaman tidak mau menerima masukan dari keilmuan modern Barat.

Islam normatif adalah sumber norma dan nilai yang mengatur seluruh tata kehidupan. Ia bersifat universal. Sedangkan Islam historis merupakan Islam yang diterjemahkan oleh umat Islam sepanjang sejarah. Meskipun Islam normatif sebagai penilai terhadap Islam historis, yang terakhir ini tidaklah lantas dibuang begitu saja karena diperlukan untuk pengoperasian sosio-historis. Dengan membedakan antara Islam historis dan Islam normatif, umat Islam akan memiliki perspeksi kesejarhan. Dengan begitu, umat Islam akan memiliki landasan untuk membicarakan ajaran – ajaran  agamanya.[[6]]

  B. Teori Gerakan Ganda

Langkah berikutnya setelah penekanan pada pendekatan sosio-historis adalah pentingnya membedakan antara legal spesifik dan ideal moral yang dikenal dengan istilah gerakan ganda (double movement). Ideal moral adalah tujuan dasar moral yang dipesankan al-Qur’an. Sedangkan legal spesifik adalah ketentuan hukum yang ditetapkan secara khusus. Ideal moral al-Qur’an lebih patut diterapkan ketimbang ketentuan legal spesifiknya sebab ideal moral bersifat universal. Dengan ini Rahman berharap agar hukum-hukum yang akan dibentuk dapat mengabdi pada ideal moral, bukan legal spesifiknya karena al-Qur’an selalu memberi alasan bagi pernyataan legal spesifiknya.  Langkah yang dilakukan, pertama memperhatikan konteks mikro dan makro ketika ayat diwahyukan. Konteks mikro adalah situasi sempit yang terjadi dilingkuangn Nabi ketika Al – Qur’an diturunkan. Sedang konteks makro adalah situasi yang terjadi dalam skala yang lebih luas, menyangkut masyarakat, agama dan adat istiadat Arabia pada saat datangnya Islam, khususnya di Makkah dan sekitarnya.  Disini lah, konsep asbabun nuzul dan nasikh-mansukh amat diperlukan.

Menurut Rahman, Al – Qur’an adalah respon ilahi, yang diturunkan melalui ingatan dan pikiran Nabi, kepada situasi sosio-moral Arab pada masa Nabi. Sehubungan dengan pernyataan ini, ia mengatakan: ”Al – Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah. Sedang dalam pengertian biasa, juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad” (Fazlur Rahman, Islam dan Modernity, hal 31). Dalam sejarahnya, pernyataan ini telah menimbulkan kehebohan di Pakistan, yang harus ditebus dengan pengunduran dirinya dari jabatan direktur Lembaga Riset. Ini menjadi derap langkah awal watak kontroversinya.  Kedua, menerapkan nilai dan prinsip umum tersebut pada konteks pembaca al-Qur’an kontemporer. Pendekatan ini oleh Rahman digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat hukum dan sosial.

Tafsir hermenetika gerakan ganda Rahman pada intinya lebih merupakan respon terhadap pendekatan yang dilakukan oleh ulama tradisional. Teori gerakan ganda mengkanter teori asbabun nuzul penafsir tradisional. Dalam teori asbabun nuzul, terdapat dua kaidah yang saling berlawanan: ” al-’ibrah bi umumil al-fadz la bi khusi al sabab, dan al-’ibrah bi khusi al sabab la bi umumil al-fadz”. Yang pertama berpegang kepada keumuman lafadz saja tanpa memperhatikan sebab-sebab khusus yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat. Yang kedua berpandangan sebaliknya, hanya berpegang pada sebab-sebab khusus yang melatarbelakangi turunnya ayat tanpa mempertimbangkan keumuman lafadz. Pandangan parsialistik dan dikotomistik ini menyebabkan penafsiran Al – Qur’an ulama tradisional menjadi tidak komperehensif. Pendekatan ini jelas akan menghalangi berkembangnya pandngan dunia Al – qur’an.

Maka, demi menjawab kegalauan inilah, Rahman mengajukan teori gerakan ganda, dengan pembedaan pada aspek legal spesifik dari ideal moral ayat yang diturunkan. Dalam kedua aspek inilah terjadi proses dialektika yang terpadu. Pembedaan legal spesifik dari ideal moral itu merupakan impak dari keinginan untuk menghadirkan pemahaman Al – Qur’an secara utuh. Menarik dicermati, Rahman disini terkesan menyerap pemahaman ahli hukum Maliki al-Syathibi tentang pentingnya memahami Al – Qur’an sebagai suatu ajaran yang integratif. Ya, sebuah usaha untuk menata nilai-nilai Al – Qur’an secara sistematis, dengan menundukkan nilai-nilai yang lebih khusus pada nilai-nilai yang lebih umum, sebagai bagian dari etika Al – Qur’an.

C. Pendekatan Sintesis – Logis

Jika dalam memahami ayat-ayat hukum dan sosial Rahman menggunakan pendekatan sosio-historis dan gerakan ganda, tidak demikian halnya ketika Rahman berhadapan dengan ayat-ayat metafisi-teologis. Untuk wilayah ini, Rahman menggunakan pendekatan sintetis-logis. Apa itu sintesis – logis? sintetis-logis adalah pendekatan yang membahas suatu tema (metafisis-teologis) dengan cara mengevaluasi ayat-ayat yang berhubungan dengan tema yang dibahas atau tema-tema yang relevan dengan tema yang dibahas[[7]]. Ini lagi-lagi adalah tindak lanjut dari kritisime Rahman atas pendekatan ulama abad pertengahan yang cenderung bersifat parsialistik dan atomisti, tanpa melihat keutuhan wahyu.

Rahman, dalam buku  Major Themes of  the Qur’an-nya, terdeteksi secara keseluruhan memuat aspek-aspek metafisis-teologis, metode interpretasi sistematis hampir sama sekali tidak diterapkan. Hal ini dikarenakan untuk kedua wilayah garapan tersebut prosedur yang lebh tepat dikenakan adalah pendekatan sintesis logis. Dalam pendahuluan buku tersebut, Rahman mengatakan :

”kecuali dalam penggarapan beberapa tema penting semisal aneka komuniksi agama, kemungkinan dan aktualitas mukjizat, serta jihad, yang kesemuanya menunjukkan evolusi Al – Quran, prosedur yang dipergunakan dalam mensistesis tema-tema lebih bersifat logis katimbang kronologis”[[8]].

Maka, lewat pendekatan sintesis-logis, ketika membahas suatu tema tertentu diharuskan untuk mengaitkan tema tersebut dengan tema-tema yang relevan. Misal, tema yang dipilih adalah Tuhan. Untuk membahas tema ini tidaklah semata-mata membahas Tuhan saja. Tetapi mengaitkan tema kemakhlukan pula. Pengandainya adalah sebagai Tuhan tentu punya hamba, sebagai Khalik tentu punya makhluk, dan sebagianya. Demikian juga sebaliknya, ketika membahas salah satu diantara tema-tema kemahklukan, pembahasan tentang Tuhan mutlak disertakan.

Ditinjau dari ilmu tafsir konvensional, pendekatan sintesis-logis terlihat mirip dengan metode tafsir maudhu’i. Rahman tentu tidak sedang menawarkan metode tafsir itu, sebab dia justru mengkritisi ilmu tafsir itu yang menurutnya mengabikan aspek keterpadua ayat-ayat atau keterpaduan tema-tema yang relevan. Meski telah mengadakan evaluasi atas ayat-ayat, tafsir maudhu’i masih terkungkung dengan satu tema yang dibahas. Misalnya, ketika ketika tafsir ini dioperasikan untuk membahas tentang Tuhan, hanya mengumpulkan ayat-ayat yang berbicara tentang Tuhan saja, tanpa menagitkannya dnegan pelbagai konsep atau tema yang mendukung keutuhan pandangan Al – Qur’an tentang Tuhan. Sedangkan operasi dari pendekatan sintesis-logis mengendaikan terlibatnya seluruh tema yang mendukung keutuhan itu.

Operasi Hermeneutis pemikiran Hukum dan Metafisika: Aplikasi Teori Hermeneutika Fazlur Rahman

Sub-sub berikut ini mengekplorasi praktik atau aplikasi dari teori hermeneutika Rahman. Selanjutnya, dengan aplikassi ini akan dicoba mengurai tingkat konsistensi dan ketetapan Rahman dalam menerapkan teori. Di sini topik-topik diambil dan diseleksi berdasarkan kepentingan untuk melihat konsistensi dan ketetapan itu. [[9]]

1.      Hukum

Poligami

Poligami merupakan isu yang selalu muncul dalam hukum keluarga. Secara umum ulama Pakistan berpandangan bahwa poligami dibolehkan dalam Islam bahkan dijustifikasi dan ditoleransi oleh al-Qur’an sampai empat istri. Pandangan ini bagi Rahman mereduksi iedal moral al-Qur’an. Praktik ini tidak sesuai dengan harkat wanita yang memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki sebagaimana dinyatakan al-Qur’an. Karena itu, pernyataan al-Qur’an yang membolehkan poligami hendaknya dipahami dalam nuansa etisnya secara komprehensif. Ada syarat yang diajukan al-Qur’an yang tidak mungkin dipenuhi laki-laki, yakni berlaku adil. Dalam kasus ini, klausa tentang berlaku adil harus mendapatkan perhatian dan niscaya punya kepentingan lebih mendasar ketimbang klausa spesifik yang membolehkan poligami. Jadi, pesan terdalam al-Qur’an tidak menganjurkan poligami, melainkan monogami. Itulah ideal moral yang hendak dituju al-Qur’an.

Potong Tangan

Dalam hukum potong tangan bagi pencuri, menurut Rahman, ideal moralnya adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi. Secara historis-sosiologis, mencuri menurut kebudayaan Arab tidak saja dianggap sebagai kejahatan ekonomi, melainkan juga kejahatan melawan nilai-nilai dan harga diri manusia. Namun sejalan perkembangan jaman, mencuri hanyalah kejahatan ekonomi, tidak ada hubungannya dengan pelecehan harga diri. Karenanya, bentuk hukumannya harus berubah. Mengamputasi segala kemungkinan yang memungkinkan ia mencuri lagi dapat dilakukan dengan berbagai cara yang lebih manusiawi, misalnya penjara atau denda. Jadi hukum potong tangan adalah budaya Arab, bukan hukum Islam.

2.      Metafisika

Tuhan

Dalam interpretasi tentang Tuhan, Rahman merespon dua pemikiran, Barat dan Muslim. Orang Barat banyak yang menggambarkan Tuhan dalam al-Qur’an sebagai suatu konsentrasi kekuatan semata, bahkan sebagai kekuatan yang kejam; raja zalim. Di kalangan Muslim Mu’tazilah dan Asy’ariyah telah mereduksi makna hubungan Tuhan dan manusia. Mu’tazilah memberi peran yang besar kepada manusia dan mengecilkan peran Tuhan sehingga manusia tampak benar-benar ”bertanggungjawab”. Asy’ariyah memandang manusia tidak memiliki kekuatan sama sekali, sehingga Tuhan tampak sebagai yang maha kuasa. Sementara kaum sufi menganut paham pantheisme, semua adalah Tuhan.

Menurut Rahman, ada tiga hal yang sering ditekankan al-Qur’an sebagai upaya pemberian peringatan kepada manusia, (1) segala sesuatu selain Tuhan bergantung kepada tuhan, (2) Tuhan adalah Maha Pengasih, dan (3) aspek-aspek ini mensyaratkan hubungan yang tepat antara Tuhan dan manusia, hubungan yang dipertuan dan hamba-Nya, yang pada akhirnya mengkonsekuensikan hubungan yang tepat pula di antara sesama manusia.

Makhluk

Dalam alur penerapan pendekatan sintesis logis, keterkaitan antara makhluk dengan Khalik (Tuhan) sangat jelas keterkaitannya. Keterkaitan antara makhluk pun – manusia, malaikat, alam semesta, dan setan – mesti tidak bisa dihindari

manusia

Dalam konteks ini, ada suatu pembahasan Rahman yang menarik, yaitu kritisimenya pada filsafat Yunani yang kemudian di anut secara massif di lingkuangan keilmuan Islam, yaitu tentang dualisme dalam diri manusia. Bahwa manusia terdiri dari dua substansi yang berbeda, bahkan bertentangan: ruh dan raga. Pemahaman seperti ini juga dianut dalam ajaran kristen dan Hindu. Menurut Rahman, tidak ada satu ketetapan pun di alam Al – Qur’an yang dapat membenarkan pemahaman itu. Istilah nafs yang kerap dipakai Al – Qur’an dan diterjemahkan sebagai jiwa (soul) pada dasarnya berarti sosok (person) atau diri (self). Penerjemahan nafs sebagai jiwa kurang tepat. Sebab jika dipahami seperti itu, maka ada yang tertinggal dari manusia, yaitu raganya. Seperti dilukiskan Al – Qur’an, manusia adalah sebuah organisme utuh yang berfungsi dengan cara tertentu. Manusia bukanlah tubuh wadah atau jasmaninya saja, melainkan mencakup pula bagian dalam dirinya, yang dapat disebut jiwa. Keduanya membentuk satu unit yang terorganisasi.

SIMPULAN

Dalam memberi simpulan, penulis akan kembali kepada apa yang ditulis Sibawaih selaku penulis buku ini, pada bagian pengantar. Dia mengatakan: ”diantara poin penting dalam buku ini adalah bahwa metode hermeneutika Al-qur’an Fazlur Rahman tidak semata pendekatan ‘gerakan ganda’ (double movement) melainkan juga pendekatan ‘sosio-historis’ dan ‘sintetis-logis’. Pendekatan historis  dibarengi dengan pendekatan sosiologis, yang khusus memotret kondisi sosial yang terjadi pada masa al-Qur’an diturunkan. Pendekatan gerakan ganda adalah masuk ke akar sejarah untuk menemukan ideal moral suatu ayat dan membawa ideal moral itu ke dalam konteks kekinian. Pendekatan ini digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat hukum. Sedangkan sintetis-logis adalah pendekatan yang membahas suatu tema dengan cara mengevaluasi ayat-ayat yang berhubungan dengan tema yang dibahas. Pendekatan ini digunakan untuk menafsirkan ayat-ayat metafisis-teologis. Jelas, di sini ditekankan keterpaduan wahyu. Inilah salah satu kritik Rahman terhadap pendekatan ulama abad pertengahan yang cenderung melihat wahyu sebagai sesuatu yang bersifat parsial dan atomistis, tidak utuh.

Maka hal yang menjadi konsesus antara kami dan penulis buku ini adalah: ”menyimpulkan teori hermeneutika Rahman sebatas gerakan ganda saja, barangkali sama halnya dengan menyimpulkan bahwa Islam atau Al – Qur’an hanya berisi aturan hukum semata”. Harus diakui kecenderungan seperti itulah yang sering dan banyak kita anut.

 

Catatan kritis

Dari simpulan yang ditarik dari beberapa bagian, tidak ada satu pun diantara teori atau praktik hermenutika Rahman yang sama sekali bertentangan dengan gagasan Al – Qur’an. Justru, sebagai koranik, Rahman ingin menempatkan Al – Quran sebagai satu-satunya sumber yang dapat dipegang. Kritisismenya tumbuh atas dasar kenyataan bahwa umat Islam selama ini menutup mata kognisi keilmuannya. Akibatnya mereka tidak bisa melihat horisan cakrawala yang dibentangkan Al – Qur’an. Cakrawala nan luas itu justru diendapkan dalam sebuah kubangan tua yang bernama ortodoksi, yang dibangun dari sebuah reifikasi yang panjang. Hal inilah yang mewariskan penafsiran ad hoc, parsialistik dan atomistik. Singkatnya, refikasi yang mengorbitkan ortodoksi ini menyebabkan besar pesan suci Al – Qur’an gagal dipahami maknanya.

Akhirul kalam, kendati hermeneutika Rahman masih terus dipelajari dan dikritisi, ia tetaplah dipandang sebagai kontribusi besar bagi pembangunan keilmuan Islam. Menariknya, kendati Rahman terkesan mengsubordinasikan pendekatan keilmuwan Islam klasik, warisan mereka tetap saja diadopsi. Bahkan menjadi landasan picu bagi pembangunan hermeneutika Al- Qurannya. Karena sejatinya teori ini berimplikasi pada:

1.    Menyuguhkan metodologi baru dalam pengembangan keilmuan Islam

Hermeneutika Rahman adalah hermeneutika yang memadukan akar tradisional Muslim dengan temuan hermeneut Barat modern. Dinamakan hermeneutika al-Qur’an karena hermeneutika  difungsikan sebagai alat untuk menafsirkan kitab suci al-Qur’an.

2.    Menggeser paradigma dari wilayah metafisik-teologis ke wilayah etis-antropologis

Teori gerakan ganda membuat hermeneutika Rahman menebarkan nilai-nilai etis karena ideal moral menjadi tujuan utamanya.

3.    Menegakkan etika sosial dalam Islam modern.

Pergeseran paradigma dari dari wilayah metafisik-teologis ke wilayah etis-antropologis merupakan pembaharuan atas tujuan etis; tujuan yang akan mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai mahluk luhur.

 

 Daftar Pustaka:

Sibawaih, Hermeneutika Al – Qur’an Fazlur Rahman ( Yogyakarta: Jalasutra, 2007).

Rahman, Fazlur, Islam dan Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: Universiti of Chicago press, 1979)

______Major Themes of the Al – Qur’an (Chicago: Bibliotecha Islamica, 1980)


[1] Sibawaih, Hermeneutika Al-Qur’an Fazlur Rahman (Yogyakarta: Jalasutra, 2007) hal. 17

[2] Ibid, hal.  25

[3] Peringkasan ini tidak didasarkan semata-mata pada artikelnya (Islamic Modernism: It  Scope, Method and Alternative, ditulis pada 1970) tapi juga sekaligus menyesuaikan dengan perkembangan pendekatan-pendekatan Rahman. Penyebutan ideal moral yang dalam artikel itu sendiri tidak ditulis didasarkan pada tawaran Rahman dikemudian hari, yakni setelah ia menawarkan teori gerakan gandanya.

[4] Ibid, hal. 52 – 53

[5] Fazlur Rahman, Islam dan Modernity, hal. 151

[6] Op.Cit, hal. 55-56

[7] Sibawaih, Hermeneutika Al – Qur’an Fazlur Rahman, hal. 68

[8] Fazlur Rahman, Major Themes of the Al – Qur’an, hal. xi

[9] Berikut hanyalah beberapa topik-topik yang penulis tampilkan, untuk selengkapnya bisa dilihat di Major Themes of the Al – Qur’an, karya Fazlur Rahman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s