Mazhab: Paket Praktis Buat Zaman yang Disangka Statis?

Oleh: Andi Purwanto 

Mukti Ali, dalam pengantar bukunya Nourrouzzaman Shiddiqi, “Fiqh Indonesia: Penggagas dan Gagasannya”, menulis:

“Seorang guru hidup dengan ilmunya, sedangkan seorang pemimpin hidup dengan pengikutnya. Guru tanpa ilmu bukan guru lagi, pemimpin tanpa pengikut bukan pemimpin lagi. Oleh karena itu, kewajiban guru adalah menambah ilmu, sedang keajiban pemimpin adalah selalu menambah pengikut. Seorang guru berani  berbuat sesuatu sesuai dengan ilmunya sekalipun berbeda dengan kemauan orang banyak, sedangkan seorang pemimpin berani berbuat sesuatu sesuai dengan kemauan orang banyak sekalipun bertengan dengan logika ilmu”.

“Seorang guru dengan ilmunya berani mengatakan sesuatu sekalipun perkataanya itu tidak dimengerti orang. Memang ilmulah yang menjadi tujuannya bukan orang. Oleh karena itu tidak mengherankan, buku-buku karangan Ibnu Arabi sekalipun sudah dikaji orang tidak kurang dari delapan abad, namun orang belum memahami arti yang sebenarnya. Demikian pula Al-Ghazaly, pikiran-pikirannya hingga kini masih banyak diselebungi oleh misteri”([1]).

Apa yang dikemukan diatas merupakan suatu gambaran kecil sebagai salah satu titik tolak untuk memahami suatu realitas. Hal yang sama dapat digunakan untuk memahami realitas mazhab fiqh, atau madzab apapun. Sebab dalam dunia ilmiah, mazhab merupakan suatu keniscayaan. Tanpa madzab, ilmu dan wacana akan mandeg dan steril. Atau, keseragaman mazhab berarti membunuh kebudayaan dan peradaban manusia. Manusia akan menjadi mesin, yang harus digerakkan secara mekanis atau organis; tanpa akal sehat dan hati nurani. Oleh karena itu, dalam berbagai disiplin ilmu dikenal berbagai mazhab. Bahkan mazhab tersebut menjadi tulang punggung utama dari suatu disiplin ilmu.

Dalam memandang keniscayaan madzab itu, sejenak kita bisa menarik sebuah contoh untuk dijadikan bahan kajian, yaitu dalam lingkungan yang lebih luas, Imam mazhab dan Madzab Fiqh banyak tersebar dalam kawasan yang lebih luas, mendunia. Namun dalam entitas yang lebih luas itu, imam mazhab memiliki keunikan. Imam madzab adalah guru yang mempunyai murid, namun sebagian juga mempunyai pengikut yang amat banyak. Bahkan mencapai ratusan juta pengikut. Atas perihal tersebut, muncul pertanyaan: apakah murid dari madzab sama dengan pengikut yang bersangkutan? Bukankan al-Syafi’i merupakan salah seorang murid Malik bin Anas, namun ia bukan pengikut madzab malik? Bukankah Daud bin Ali dan Ibnu Hazm merupakan penganut mazhab Syafi’i namun menjadi pendiri mazhab Zhahiri? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, hanya dapat dilakukan secara tepat dan akurat berdasarkan hasil penelitian, yakni penelitian mazhab fiqh. Penelitian yang saling berhubungan dengan penelitian fuqaha dan pemikiran fuqaha.

Lebih Dekat dengan Mazhab: Menengok Tanah Kelahiran Mazhab

Madzab fiqh, secara internal adalah otonom. Namun secara eksternal merupakan bagian dari entitas kehidupan muslim, yang tergantung dengan unsur lain dari entitas itu, sehingga menampakkan suatu kesatuan entitas kehidupan manusia. Atas perihal tersebut, manakala dilakukan pendekatan historis terdapat hubungan yang signifikan antara kalam dengan fiqh; atau antara mazhab kalam dengan mazhad fiqh. Kalam bermula dari pertikaian politik antar keluarga, sebagai akibat pembunuhan Ustman Affa yang tidak kunjung selesai, dan berpuncak pada peristiwa tahkim (arbritase) diantara dua “partai”. Doktrin kalam kemudian menjadi wacana kalam, kemudian selanjutnya menjadi mazhab kalam: Ahlussunnah (Sunni), Syiah (Syi’i) dan Khawarij. Maka secara garis besar pula mazhab fiqh dapat dikelompokkan pada tiga mazhab utama: Sunni, Syi’i dan Khawarij. Relasi antara mazhab kalam dan mazhab fiqh tercemin dalam sejumlah proposisi yang dikemukakan oleh Abu Hanifah dalam Fiqh al-Akbar. Dengan demikian, apakah perkembangan mazhab fiqh berhubungan dengan pertikaian atau dukungan politik? ([2]).

Dalam masyarakat Islam dewasa ini, mazhab fiqh lebih dikenal dari pada mazhab lainnya, termasuk kalam. Boleh jadi hal itu karena fiqh bersifat praktis, oleh karena kepraktisannya itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Mazhab, seringkali menjadi ungkapan yang popular bila ditemukan masalah fiqh yang kontroversial. Berkenaan dengan itu, maka layak untuk dipertanyakan apakah sebenarnya madzab fiqh itu? Jawaban atas pertanyaan itu akan kami sadurkan dari beberapa pakar, mulai dari yang sederhana sampai pada penjelasan yang rumit.

Dalam buku Bermazhab di Era Modern: Menjawab Kemoderenan dengan al-Ijtihad al-Ilmi al-ashr, Prof. Qodry Azizi menjelaskan bahwa Madzab, secara bahasa diartikan pendapat (view, opinion, ra’y), kepercayaan, ideologi (belief, ideology, al-mu’taqad), doktrin, ajaran, paham, aliran (school, al-ta’lim wa al-thariqah). Kemudian yang dimaksud bermadzab adalah mengikuti madzab tertentu dalam sistem pengambilan hukum Islam/fiqih.

Secara etimologi, مذهب berasal dari shigoh masdar mimy (kata sifat) dan isim makan (kata yang menunjukan tempat) yang diambil dari fi’il madhy ذهب yang artinya pergi, bisa juga berarti الرأي artinya pendapat.

secara terminology, pengertian mazhab menurut:

1.  Huzaemah Tahido Yanggo, mazhab  adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam Mujtahid dalam memecahkan masalah, atau meng-istinbath-kan (penetapan) hukum Islam. Selanjutnya Imam Mazhab dan mazhab itu berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat Islam yang mengikuti cara istinbath Imam Mujtahid tertentu atau mengikuti pendapat Imam Mujtahid tentang masalah hukum Islam([3]).

2. Amir Syarifuddin, menggambarkan tentang fiqh pada masa imam mujtahid tertentu, yang kemudian terbentuk berbagai mazhab yang ditandai oleh beberapa kegiatan. Pertama, menetapkan metode berfikir untuk memahami sumber hukum. Kedua, menetapkan istilah hukum yang digunakan dalam fiqh. Ketiga, menyusun kitab fiqh secara sistematis yang tersusun dalam ab dan pasal; bagian dan subbagian yang mencakup semua masalah hukum([4]).

3. Menurut Said Ramadhany al-Buthy, mazhab adalah jalan pikiran (paham/pendapat) yang ditempuh oleh seorang mujtahid dalam menetapkann suatu hukum Islam dari al-Qur’an dan Hadits.

4. Menurut K. H. E Abdurrahman, mazhab dalam istilah Islam berarti pendapat, paham aliran seorang alim besar dalam Islam yang digelari Imam seperti mazhab Imam Abu Hanifah, mazhab Imam Ahmad Ibn Hanbal, mazhab Imam Syafi’I, mazhab Imam Malik, dan lain-lain.

5. Menurut A. Hasan, mazhab yaitu sejumlah fatwa atau pendapat-pendapat seorang alim ulam besar dalam urusan agama baik dalm masalah ibadah maupun masalah lainnya.

 Dari pandangan kacamata tokoh-tokoh diatas, dapat ditarik beberapa konsep kunci yang sama, yaitu: (1) Imam Mujtahid, (2) Metode Ijtihad, (istinbath) hukum, (4) madzab sebagai aliran fiqh, kemudian menjadi komunitas dan muncul kelompok pendukung atau pengikut, (5) ada penyusunan kitab, (6) jalan pikiran atau metode kemudian menjadi fatwa atau pendapat  seorang Imam Mujtahid dalam menetapkan hukum suatu peristiwa berdasarkan kepada al-Qur’an dan Hadits.

Selanjutnya, sejarah timbulnya madzab bermula dari ijtihad yang dilakukan oleh seorang imam/mujtahid yang kemudian hasil ijtihadnya itu diikuti oleh para murid-muridnya. Lama-kelamaan melalui proses dialektis, terjadi pembakuan baik dalam manhaj maupun corak pemikiran hukum Islam hasil ijtihad para imam, dan dari sinilah madzab terbentuk. Pada mulanya dikenal madzab sebuah kota atau daerah (misal madzab Hijazi dan madzab Iraqi), tapi madzab berbasis kedaerahan ini berakhir setelah munculnya Imam Syafi’i yang mengembalikan basis madzab dari daerah ke individu. Lalu munculah madzab berbasis individu/imam diantaranya yang terkenal : madzab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.([5])

Praktek bermadzab selama ini adalah dengan mengikuti pendapat-pendapat fuqaha (ahli hukum Islam) yang telah megklaim diri mereka sebagai pengikut salah satu imam pendiri madzab. Kalau ada kelompok umat yang menjadi pengikut madzab Syafi’i, maka mereka harus mengikuti pendapat-pendapat fuqaha tersebut (yang pada umumnya masa mereka sangat jauh dari imam madzab itu sendiri) dengan merujuk kepada kitab-kitab yang telah ditulis oleh mereka. Dan ironisnya, kitab-kitab karya imam pendiri madzabnya (dalam hal ini imam Syafi’i) jarang atau hampir tidak pernah dijadikan rujukan secara langsung, bahkan karya murid langsung sang imam juga jarang atau tidak pernah dijadikan rujukan. Dengan demikian, bermazhab Syafi’i identi dengan talid kepada aqwal (Pendapat-pendapat yang sudah matang) Fuqaha Syafi’iyyah. ([6])

Untuk pembahasan lebih lanjut, pembahasan kali akan diarahkan kepada aliran pemikiran perspektif bidang fiqh, yang kemudian menjadi komunitas dalam masyarakat Islam. Karena madzab bagaikan aliran sungai dari air mata yang sama. Ditengah perjalanan bertemu dengan aliran sungai yang lain; yang juga bercabang dan beranting. Sehinngga dalam realitas masyarakat Islam terdapat berbagai mazhab (baca: komunitas), sebagaimana telah dikemukakn di depan, yakni: Sunni, Syi’i dan Khawarij. Secara rinci ketiga komunitas mazhab serta pendiri (Imam) mazhab tersebut, dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel Mazhab Fiqh dan Imam Mazhab

No

Mazhab

Imam Mazhab

Keterangan

1

Hanafi

Abu Hanifah al-Nu’man (w. 150/767)

Berkembang

2

Maliki

Malik bin Anas al-Asbahi (w. 179/795 )

Berkembang

3

Syafi’i

Muhammad Ibnu Idris al-Syafi’i

Berkembang

4

Hanbali

Ahmad bin Hambal (w. 241/855)

Berkembang

5

Laisi

Al-Lais bin Sa’ad (w. 175/791)

Punah

6

Auza’i

Abu Amir al-Auza’I (w. 157/774)

Punah

7

Tsauri

Sufyan as-Tsauri (w. 161/778)

Punah

8

Sufyani

Sufyan bin Uyainah (w. 198/814)

Punah

9

Ishaqi

Ishaq bin Rahwabah (w. 238/859)

Punah

10

Zhahiri

Daud bin Ali al-Ashfahani (w. 270/883)

Punah

11

Thabari

Ibn Jarir at-Thabari (w. 310/924)

Punah

12

Abu Tsaur

Ibrahim bin Khalid al-Baghdadi (w. 246/860)

Punah

13

Nakha’i

Syarik bin Abdillah al-Nakha’i (w. 177/794

Punah

14

Ja’fari

Ja’far bin Muhammad al-Baqir (w. 148/765)

Berkembangan

15

Zaidi

Zaid bin Ali Zainal Abidin (w. 122/740)

Berkembangan

  16

Isma’ili

Ismail bin Ja’far as-Shadiq

Berkembangan

17

Fathimi

Abdullah bin Mahdi

Punah

18

‘Ibadi

Muhammad bin ‘Ibad (w. 93/712)

Berkembangan

Sumber: Hasan Bisri, Model Penelitian Fiqh (Bogor: Kencana, 2003), hal. 240

Tabel diatas memberikan informasi tentang mazhab dalam masyarakat Islam. Pertama, dalam komunitas Sunni terdapat 13 mazhab, diantaranya empat mazhab yang masih berkembang (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali). Kedua, dalam komunitas syi’i terdapat empat mazhab, diantaranya 3 yang masih berkembang (Ja’fari (Imami), Zaidi dan Ismai’li). Ketiga, komunitas Khawarij, yang hanya terdapat satu mazhab saja yang masih berkembang, yakni mazhab ‘Ibadi.

Kemudian, mazhab Auza’i yang semula berkembang pesat di Syam hanya bertahan selama dua ratus tahun, kemudiaan melemah dan tergantikan oleh mazhab Imam Malik. Sedangkan mazhab Hasan Bashri dan Tsauri tidak berumur panjang karena masyarakat Syam dan Baghdad sebagian besar beralih ke mazhab Malik dan Hanafi([7]).

Mazhab Thabari dan Abu  Tsaur tidak bertahan lama. Persaingan yang begitu ketat menjadikan hanya 400 tahun mazhab Thabari bertahan. Sedang mazhab Abu Tsaur bertahan selama 500 tahun. Para pengikut Daud Dhahiri yang semula berkembang di Baghdad dan Persia dan sedikit di Afrika dan Andalusia, sekarang sangat lemah.

Adalah mazhab Syafi’i yang secara mengejukkan melonjak perkembangannya. Semula, mazhab ini hanya berkembang di Mesir tetapi kemudian juga merambah ke Baghdad, Irak dan masuk ke Khurasan sampai Syam dan Yaman hingga sekarang. Setelah 300 dari perkembangannya, mazhab Syafi’i juga muncul di Afrika dan Andalusia. Mazhab Imam Ahmad bin Hambal yang berkembang di Baghdad menyebar di Syam, tetapi sekarang mulai melemah([8]).

Pertanyaanya kemudian adalah, Faktor apa yang mempengaruhi gerak kembang dan lemah atau punahnya mazhab? Perkembangan berbagai mazhab itu, selain didukung oleh fuqaha’ (Mujtahid) serta para pengikutnya, juga  mendapat pengaruh dari kekuasaan politik. Hal terakhir ini tampak dibeberapa Negara. Misalnya mazhab Syafi’i di Kesultanan Brunei Darus Salam, Mazhab Hanbali di Mamlakah Saudi Arabia, mazhab Maliki di Maroko dan Mazhab Ja’fari di Republik Islam Iran.([9])

Ketika mazhab masih dalam wujud aliran pemikiran, yang bertumpu pada pendapat imam mazhab, dalam komunitas Sunni terdapat dua aliran yang berada dalam 2 kutub yang berseberangan, yakni ahl al-ra’yi (rasionalis-logis) dan ahl al-Hadist (tradisionalis-empiris). Ahl ar-Ra’yu berkembang di Kufah (Irak) dibawah komando Abu Hanifah. Karena baginya sumber hukum utama yang dijadikan rujukan ialah Kitabullah (al-Qur’an), kemudian Sunnah Rasulullah melalui seleksi yang ketat dan yang ketiga adalah fatwa sahabat. Sedang dalam ijtihad digunakanlah ijma’, Qiyas, Istihsan dan ‘Urf. Di kutub ahl al-hadist berkembang di Madinah dengan tokoh utamanya Malik bin Anas. Bagi Malik, Kitabullah (al-Qur’an), kemudian Sunnah Rasulullah dan yang ketiga adalah tradisi ahli Madinah. Sementara itu dalam hal ijtihad Malik menggunakan Qiyas, Ihtihsan, dan Sadd al-Dzari’ah.

Uraian diatas menunjukan betapa konteks sosial dan budaya lokal merupakan latar belakang  makro yang memiliki hubungan dengan penerapan metode ijtihad (Istinbath al-Ahkam). Namun demikian, kedua aliran itu, juga aliran lainnya memiliki keunikan masing-masing. Ketika masing-masing memiliki kohesifitas yang tinggi, muncul etnosentrisme dikalangan para penganut dan pengikut, sehingga makna keunikan menjadi perbedaan pendapat fuqaha (Ikhtilaf Fuqaha), bahkan sering diartikan diartikan sebagai perselisihan pendapat. Sikap entrosentrisme itu, mengukur kebenaran pendapat aliran lain dengan pendapat aliran sendiri. Nah, sikap inilah yang berimplikasi pada tindakan dalam memutuskan hukum.

Alasan lain yang menjadi salah satu faktor berkembangnya mazhab adalah lintasan peradaban Islam melalui tradisi besar. Tradisi tersebut memiliki eman ciri. Pertama, berpangkal dari pandangan dunia (world view) yang kosmopolit. Dunia, dengan segala dimensi ruang dan waktu dipandang sebagai suatu system, yakni system global. Kedua, berkembang melalui tradisi membaca, berfikir, berdialog dan menulis secara terbuka dan toleran. Ketiga, gagasan yang dirumuskan oleh pemikir (the reflective view) dalam hal ini adalah imam mazhab, disebarluaskan dari kawasan kota yang pluralistik. Keempat, disebarluaskan dengan tradisi pengembaraan dan mobilitas special (al-Rihlah dan as-Safar) oleh komunitas yang sentrifugal. Kelima, diterima oleh komunitas dalam lingkaran kebudayaan (kulturkreisi) yang adaptif terhadap unsur baru dari luar. Keenam, sebagaimana disampaiakn diawal, yakni mendapat dukungan dari kekuasaan politik([10]).

Atas perihal tersebut, mazhab fiqh disebarluaskan secara kultural dengan dukungan dari kekuasaan politik. Terjadilah hubungan saling menguntungkan (mutual symbiotic) antara fuqaha sebagai penganut transmitter mazhab dengan elite penguasa. Fuqaha memperolah dukungan dari elite penguasa, sedang elite penguasa memperoleh dukungan kultural dari fuqaha dan komunitas mazhab.

Dari sisi melemahnya atau bahkan punahnya mazhab, sehingga lenyap dan tidak berpengaruh lagi, sedikit kita akan bicarakan. Pada dasarnya, Lenyapnya beberapa mazhab itu menggiring pemahaman kita bahwa undang-undang hukum dengan berbagai pemikirannya secara umum bukan sesuatu yang abadi, melainkan reflek dari sisi kehidupan sosial. Ia akan selalu berusaha tumbuh dan berubah sejalan dengan perubahan masyarakat dan zamannya. Undang-undang itu memiliki kondisi khusus untuk menerima perubahan dan pembaharuan sejalan dengan perubahan kehidupan masyarakat. Proses seleksi alamlah yang menjadikan berlangsungnya bertahan tidaknya mazhab. Jawaban ini dengan sendiri menguatkan hipotesa penulis bahwa keempat mazhab yang masih diperhitungan sampai sekarng ini, sejatinya telah melalui pertarungan sengit dan seleksi alam yang ketat, yang kemudian pada akhirnya memperoleh legitimasi dari generasi berikutnya sebagai mazhab resmi.

Yang pasti, secara amat ketat mazhab-mazhab tersebut bergumul dalam suatu generasi dimana fiqh secara substansional mengalamai kejumudan dan stagnan. Dalam posisi kemacetan inilah terjadi pewarisan pemikiran yang amat kaku dari guru ke murid, taqlid dan membentuk pengikut-pengikut secara khusus yang semakin menguat dari generasi ke generasi. Ditambah lagi adanya beberapa Negara yang mengklaim mazhab tertentu sebagai mazhab resmi sehingga lengkaplah fanatisme mazhab dikalangan ummat Islam.

Dalam situasi seperti ini, para ulama berinisiatif untuk memusatkan perhatiannya untuk mengkaji pemikiran fiqh ulama-ulama sebelumnya dan disepakati bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Dikondisi yang demikianlah terjadi seleksi mazhab yang amat ketat, yang kemudian disusul oleh usaha untuk mengukukuhkan mazhab masing-masing untuk memperoleh legitimasi dari masyarakat umum. Nah, dari sini hipotesa yang kami sadurkan adalah bahwa mazhab merupakan paket praktis dizaman yang disangka statis.

Bermazhab di Era Modern: Menjawab Kemoderenan dengan Memaknai Ulang “Bermazhab dan Berijtihad”

Dalam pembahasan ini, akan kami sampaikan terlebih dahulu, betapa mazhab-mazhab tersebut pada masa-masa awal seleksi (sekitar akhir abad ke-4 H), menjadi rujukan masyarakat-masyarakat tertentu. Mazhab Malik di Madinah, Abu Hanifah dan Tsauri di Kufah, Hasan Bahsri di Basrah, Auza’i di Syam (Palestina), Syafi’i di Mesir, Ahmad bin Hambal di Baghdad dan lain sebagainya. Maka dengan melihat realitas yang ada akan keberadaan mazhab dalam hati masyarakat muslim, setidaknya mereka memiliki jasa besar dalam periode kejumudan dan kemacetan piker. Bisa jadi karena mereka adalah “paket praktis” menjadi sangat dibutuhkan.

Dan kemudian, berangkat dari fenomena di kalangan umat Islam yang menempatkan bermadzab dengan berijtihad pada posisi yang dikotomis, maka sekelompok orang atau ulama yang tergolong bermadzab seolah tidak menyentuh praktik ijtihad. Sebaliknya, sekelompok orang atau ulama yang mengklaim dirinya sebagai pendukung ijtihad, seolah tidak pernah mempraktikkan model bermadzab (mengikuti ulama lain, taqlid atau ittiba’). Kelompok bermadzab dianggap sebagai pengikut masa lalu yang tidak menyentuk masalah kekinian. Sebaliknya, kelompok pendukung ijtihad dianggap a-historis karena mengabaikan khasanah pemikiran masa lalu. Untuk itu adalah sangat penting untuk melakukan kajian kritis dalam rangka mengadakan redifinisi untuk keduanya (bermadzab dan berijtihad).

Kemudian setelah melihat realitas umat dalam bermadzab seperti tergambar dia atas, pertanyaan kritis dan mendasarnya adalah : Apakah bermadzab harus mengikuti dan tidak boleh berfikir, termasuk tidak boleh mengetahui alasan penerapan hukum? Pertanyaan itu mendapat jawaban langsung yang intinya bahwa bermadzab tidak musti atau harus mengikuti pandapat madzab tanpa perlu tahu landasan normatif dan filosofis di balik pendapat itu. Bermadzab terdiri atas beberapa tingkatan, dan yang paling rendah adalah bermadzab taqlid yang prakteknya seperti terurai di atas. Namun, bermadzab dalam pengertian ittiba’ (mengikuti dengan mengetahui alasan dan dalil pengambilan hukum) tidak selalu demikian. Bahkan masih tetap disebut bermadzab, meskipun menjalankan ijtihad, terutama sekali atas kasus-kasus kontemporer. Dan lebih dari itu, juga tetap masih disebut bermadzab meskipun juga berupaya mengembangkan metodologi (manhaj) yang sangat mungkin akan mempunyai akibat terjadi perbedaan pendapat dengan imam madzabnya.([11])

Bermadzab tidak musti melulu mengikuti pendapat imam madzab dari kata-katanya (fi al-aqwal), mamun bisa dalam metodologinya (fi al-manhaj), bahkan juga untuk mengembangkan metodologinya, bukan lagi mengikuti manhaj yang sudah ada. Berangkat dari tesis itu, maka kami menawarkan redifinisi terhadap konsep talfiq yang konotasinya selalu pada bermadzab fi al-aqwal. Tetapi bagaimana talfiq (eklektik) juga dapat dipraktekkan dalam wilayah bermadzab fi al-manhaj.

Pada akhirnya redifinisi bermadzab sebagaimana dirumuskan oleh prof. Qodry Azizi, berporos untuk menguraikan tingkatan bermadzab yang terdiri dari lima tingkat :

Pertama, taqlid kepada fuqaha madzab. Kedua, taqlid kepada imam mazhab. Ketiga, Ittiba’ kepada ulama mazhab atau langsung kepada imam mazhab. Keempat, bermazhab fi al-Manhaj. Dan Kelima, mengembangkan metodologi imam mazhab.

Kesimpulan dan Penutup

Dalam memberi simpulan penulis ditantang untuk memberi jawaban atas sebuah pertanyaan mendasar, yakni: Masih perlukah mazhab di era modern ini? Tentu, sebagai seorang analis yang masih awam, kami hanya bisa menjawab bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak mengaju pada masih dibutuhkan atau tidaknya mazhab. Akan tetapi, menurut hemat penulis tawaran yang diperlukan adalah memaknai dengan tepat arti bermazhab untuk kemudian bisa memaknai ijtihad itu sendiri sebagai sebuah “proses”.    Karena pada sadarnya hukum Islam yang merupakan hasil karya fuqaha atau mujtahidin yang lalu, yang selama ini selalu ditempatkan pada posisi doktrinal atau diabaikan sama sekali,  hendaknya ditempatkan pada proporsi yang sebenarnya, yaitu sebagai hasil ijtihad ulama terdahulu.

Proses “humanisasi hukum Islam” atas hasil ijtihad  akan mengembalikan kepada kodrat hukum Islam (the nature of Islamic law).  sehingga menjadi sesuatu yang dapat tersentuh oleh pemikiran manusia zaman sekarang. Di sisi lain, hasil ijtihad yang selama ini dianggap sebagai sebagai “barang mati” dapat diangkat menjadi khasanah intelektual yang sangat berharga.

Kemudian, hasil ijtihad itu dilihat secara kontekstual, sehingga menjadi hidup dan mempunyai nilai. Hasil ijtihad jika ditempatkan secara proporsioal – termasuk melihatnya secara kontekstual -, akan mampu memberi inspirasi dari produk pemikir terdahulu yang telah memberi jawaban terhadap permasalahan atau tantangan zaman pada masanya. Oleh karena itu, usaha kontekstualisasi terhadap hasil ijtihad masa lalu, perlu digairahkan, bahkan mestinya menjadi suatu keharusan. Kajian seperti ini tidak cukup hanya membaca teks dari hasil ijtihad tersebut, namun harus dibarengi dengan kajian sejarah dan sosial yang melingkupi mujtahid serta kajian metodologi yang duipergunakan oleh mujtahid di dalam menghasilkan hukum Islam itu.

 Pada akhirnya, apa yang ditulis besar pada judul bahasan ini hanyalah sebuah stimulus. Sebagai sebuah harapan wujudnya kado penggugah akan pentingnya memaknai dengan tepat arti mazhab, bermazhab dan berijtihad. Karena terkesan ceroboh bila mazhab dikatakan sebagai paket praktis dizaman yang disangka statis. Sekali lagi, ini hanya pancingan. Karena madzab merupakan kumpulan karya dari produk para pemikir terdahulu kita yang memberi banyak  inspirasi bagi kita untuk mampu memberi jawaban terhadap permasalahan atau tantangan zaman pada masanya.

Referensi:

1. Bisri, Cak Hasan, Model Penelitian Fiqh, jilid I (Bogor: Kencana, 2003).

2. Syiri, Mun’im A, Sejarah Fiqh Islam (Surabaya: Risalah Gusti, 1995).

3. Azizi, Qodry, Bermazhab di Era Modern (Yogyakarta: Teraju-Mizan, 2003).

4. Shiddiqi, Nourrouzzaman, Fiqh Indonesia: Penggagas dan Gagasannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997)

 


[1] Nourrouzzaman Shiddiqi, Fiqh Indonesia: Penggagas dan Gagasannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), viii-ix.

[2] Hasan Bisri, Model Penelitian Fiqh (Bogor: Kencana, 2003), hal. 238

[3] Ibid., hal. 239

[4] Ibid.

[5] Qodry Azizi, Bermazhab di Era Modern (Yogyakarta: Teraju-Mizan, 2003), hal. 16-18.

[6] Ibid., hal. 21

[7] Mun’im Syiri, Sejarah Fiqh Islam (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), hal. 81.

[8] Ibid., hal. 81-82.

[9] Hasan Bisri, Model Penelitian Fiqh (Bogor: Kencana, 2003), hal. 241

[10] Ibid., hal. 246-248.

[11] Qodry Azizi, Bermazhab di Era Modern (Yogyakarta: Teraju-Mizan, 2003), hal. 21-22.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s