Membumikan “Man Jadda WaJada”: Mengukur Kesungguhan Diri

Oleh, Andy Purwanto

Man Jadda Wajada, sebuah “mantra sakti” yang memiliki makna yang kuat. Kekuatananya mampu memberikan “semanggi” (semangat tinggi) bagi mereka yang mampu menyelami kedalaman maknanya. Kehadirannya, menjadi hidangan dari para ustadz-ustadzah dalam memberikan pelajaran motivasi dikelasnya. “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”, begitulah arti ungkapan Arab ini. Kata kunci dalam pepatah ini ialah Jadda atau bersungguh-sungguh. Jadi, sejauh mana Anda sudah mengaplikasikan pepatah ini ialah sejauh mana Anda bersungguh-sungguh.

Man Jadda WaJada, memang bukanlah hadist, namun pepatah arab ini secara historis sudah teruji kebenarannya. Para ulama, ilmuwan dan orang orang yang sukses di bidangnya, pastilah “sungguh-sungguh” menjadi salah satu amunisi dalam menghadapi realita dan permasalahan yang menghampiri. Benih man jadda wajada, cocok ditanam pada lingkungan manapun dan dalam kondisi apapun. Tak pandang bulu, entah seorang siswa pelajar, santri, guru, karyawan, atau siapapun itu, yang menanamnya dan istiqomah menjalaninya, maka pintu kesuksesan dan keberhasilan akan terbuka lebar baginya. Karena keberadaanya Sholih Likulli Zaman wa Makan, maka ketetapannya  mengisyaratkan kepada  manusia bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum selama kaum tersebut tidak berusaha merubahnya sendiri, sebagaimana tertuliskan dalam kitab suci al-Qur’anul karim, “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Ar Rad: 11)

Setiap manusia yang lahir dimuka bumi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bintang, menjadi pemenang dan mencetak prestasi yang luar biasa dalam kehidupannya. Namun tak semuanya memiliki mental yang cukup kuat untuk menggunakan kesempatan itu, sehingga hanya sedikit yang mampu mewujudkan mimpi dan cita-cita menjadi kenyataan.

Semua orang memiliki potensi yang sama, yang berbeda ialah sejauh mana kita menggunakan potensi tersebut. Sejauh mana kita membumikan man jadda wa jada dalam hidup kita pula. Kita masih suka mengatakan “tapi” sebagai dalih untuk tidak berusaha, artinya kita belum bersungguh-sungguh. Mungkin dalih ini benar, tetapi tetap saja kita  tidak meraih apa yang kita inginkan.

Selalu ada jalan untuk menyelesaikan masalah. Potensi pikiran, hati, dan tubuh  mampu  untuk mengatasi masalah kita. “Semakin besar dan tinggi mimpi dan cita-cita yang ingin kita gapai, semakin banyak pula tantangan yang harus ditaklukkan, semakin berat pula rintangan yang harus dilalui. Ibarat naik pohon, semakin tinggi kita menaikinya, semakin kencang pula angin yang menerpa diri kita”, demikian kira-kira pengandaiannya.

Namun, sudahkan kita mengukur kesungguhan diri?  Nah, mari sama-sama kita periksa pertanyaan berikut dan jawablah dalam hati masing-masing.

1. Sudahkah Anda bersungguh-sungguh melihat peluang. Coba lihat catatan Anda, sudah seberapa banyak potensi peluang yang Anda catat?

2. Seberapa dalam Anda meneliti sebuah ide ?

3. Seberapa banyak ide-ide yang sudah Anda lakukan?

4. Sudah berapa kali Anda gagal dan bangkit lagi mencoba?

5. Seberapa keras Anda mencari solusi masalah Anda? dan sebagainya.

Jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut bisa dijadikan semacam alat ukur kesungguhan diri yang berfungsi sebagai pijakan kadar kekuatan kesungguhan kita. Dari sini, langkah selanjutnya ialah kita harus membumikan Man Jadda Wa Jada, bukan hanya pepatah penghias dinding, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan kita. Karena telah terbukti kebenarannya. “Jika kita bersungguh-sungguh, maka kita akan mengalahkan rasa malas yang menghambat untuk bertindak, jika kita bersungguh-sungguh, maka kita akan mencari cara mengatasi rintangan dan halangan yang ada di depan kita, jika kita bersungguh-sungguh, maka kita akan berusaha melengkapi apa yang menjadi kekurangan kita untuk meraih tujuan besar, jika kita  bersungguh-sungguh, maka tidak akan mudah berhenti, terus berpikir kreatif, mencoba dan mencoba sampai Anda menemukan jalan yang tepat dan Jika kita bersungguh-sungguh, maka tidak akan kalah dengan alasan, justru akan berusaha mengatasi alasan tersebut”, demikian kira-kira logika yang kita bisa bangun

Sudah menjadi tabiat manusia, bahwa setiap dari kita sesungguhnya sedang “berproses untuk menjadi”, yaitu menjadi lebih baik. Yang harus kita lakukan dan usahakan hanyalah bersungguh-sungguh untuk itu. Membuat prioritas hidup dengan hanya melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan manfaat bagi kehidupan.

Tak perlu menunggu mempunyai gelar yang panjang, pangkat yang tinggi, kedudukan yang kuat dan berlama-lama untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita kita. Lakukan hal-hal positif, melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, dimulai dari hal-hal yang kecil, dari diri sendiri dan mulai saat ini juga.Tidak ada kata terlambat untuk mencoba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s