Menjadi Pelajar yang ‘Rahmatal lil ‘Alamin’

Oleh: Andi Purwanto

Insan kamil adalah titik puncak pendidikan nasional yang diiedalisasikan dalam upaya reaktualiasi hakikat kemanusiaan dan manifiestasinya dalam system dan struktur social. Masih kita yakini bahwa pendidikan merupakan aspek penting dalam upaya peningkatan derajat manusia Indonesia. Meskipun hingga kini dunia pendidikan kita masih  terpasung dalam persoalan-persoalan yang dilematis dan belum terselesaikan secara tuntas.

Hijrah pendidikan kita kini telah masuk pada abad globalisasi. Manusia, dalam decade ini  ditempatkan sebagai poros sentral pembangunan kesadaran global dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia yang  produktif  dan  kompetitif dalam percaturan global ini.

Pendidikan secara makro bisa dimaknai sebagai reaksi proaktif terhadap perkembangan masyarakat. Ini berarti bahwa pendidikan yang diberikan kepada peserta didik (pelajar) harus berorientasi pada upaya penanaman jiwa yang peka terhadap lingkungan masyaraktnya, serta senantiasa aktif dalam mewarnai corak perkembangan masyarakat yang dicita-citakan.

Pelajar Rahmatal lil Alamin adalah pengejawentahan dari hakikat pelajar  yang tidak  hanya soleh secara individu, akan tetapi sholeh juga  secara social. Dalam konteks ini, pelajar yang dimaksud adalah insan yang cerdas, terampil serta tidak apatis terhadap persoalan-persoalan global yang menjadi persoalan seluruh umat manusia. Dari satu entitas ini, maka sebenarnya pendidikan kita membutuhkan sensitifitas yang tinggi terhadap kondisi riil masyarakat. Seperti: permasalahan kemiskinan, kebodohan, dekadensi moral dan lain sebagainya. Nah, dari persoalan-persoalan inilah terbuka peluang bagi dunia pendidikan untuk membuka gerbang tranformasi ke arah kesejahteraan social masyarakat yang beriklim dinamis dan demokratis. Peluang  pendidikan yang disebut terakhir diatas sejatinya berlaku bagi penyelenggara pendidikan dalam  menyiapkan outputnya untuk membangun kualitas bangsa, mulai dari kualitas individu yang memiliki tanggung  jawab terhadap dirinya sampai pada peranannya ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan Tranformatif; upaya menjauhkan sifat apatisme pelajar terhadap persoalan social

Tidaklah cukup sekedar pintar. Tidak juga robot yang akan dibuat dunia pendidikan. Karena proses mengasuh, mengasah, mencerdaskan dan menguatkan bakat siswa itulah ruh pendidikan. Al hasil, diharapkan melalui proses ini lahir generasi yang ‘bijak’ karena belajar.

Pelajar dan belajar, dua kata yang tidak bisa dipisahkan ketika kita menyoal geliat para tholibul Ilmi beserta kewajibannya. Pelajar dengan segala sisi fenomenalnya tidak habis dikupas dan dibahas. Termasuk, tingkah laku mereka saat ini yang disinyalir apatis terhadap masyarakat. Siswa lulusan tingkat atas bahkan menengah, lebih suka menyibukkan diri menuruti hawa nafsu, dari pada ikut ‘urun rembuk’ membangun masyarakatnya, begitu juga santri lulusan pondok pesantren lupa kalau mereka berkewajiban ‘mulang ngaji’.   Berangkat dari asumsi-asumsi inilah, kiranya sudah cukup untuk menggiring pada hypotesa , ada yang salah dengan mereka? Atau system salah yang mereka ikuti?

Mengubur apatisme pelajar yang acuh akan persoalan social, setidaknya menjadi jawaban dari hypotesa diatas. Lalu, dengan apa itu diatasi? Salah satunya dengan pendidikan tranformatif. Apa itu? Secara sederhana, alternatif ini bisa dimaksudkan sebagai konsep pendidikan yang berporos  pada  penyiapan individu yang memiliki tanggung jawab terhadap dirinya dan masyarakat.

Pendidikan tranformatif pada dasarnya adalah model pendidikan yang bersifat kooperatif terhadap segenap kemampuan anak didik menuju proses berfikir yang lebih bebas dan kreatif. Model pendidikan ini menghargai potensi yang ada pada setiap individu. Artinya, potensi-potensi individual seorang peserta didik tidak dimatikan dengan berbagai bentuk penyeragaman dan sanksi-sanksi, akan tetapi dibiarkan tumbuh dan berkembang secara wajar dan manusiawi. Pendidikan tranformatif menjelaskan adanya relasi social yang timpang. Relasi-relasi itu perlu diubah agar menjadi proporsional, saling menghargai dan memiliki peran yang tidak diskriminatif. Karakter pendidikan transformatif mencakup tumbuhnya kesadaran kritis peserta didik, berwawasan futuristik, life-skill, berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan, dan jaminan kualitas (quality assurance) (Darmanigtyas, pendidikan pada dan setelah krisis, 1999, hal 152).

Jika pendidikan kita dapat menghasilkan manusia-manusia kritis, maka perubahan social masyarakat pun akan bergesar secara massif. Tetapi, sudahkah pendidikan kita mengarah pada pemikiran tersebut? Hemat penulis, hanya kesadaran magis bahkan naïf jika berkaca pada realita yang ada. Karena Factual sekali, dunia pendidikan kita masih didominasi oleh proses pengalihan ilmu pengetahuan semata. Hasilnya, hanyalah manusia-manusia mekanik yang apatis terhadap kondisi riil masyarakat.

Disadari atau tidak, tujuan pendidikan sejatinya bukan menyetor pengetahuan – apalagi hanya untuk mendapatkan gelar tertentu – akan tetapi memecahkan masalah-masalah yang nyata. Oleh karena itu, murid janganlah hanya digiring untuk menjadi insan yang cerdas saja, tetapi juga harus diarahkan pada penumbuhan kesadaran bahwa mereka hidup didunia yang bermasalah.

Lain dari itu, suatu proses rekontruksi pemikiran pendidikan akan dapat berjalan dengan terarah dan sinergis apabila didukung oleh landasan filosofis yang mantap pula. Yaitu menyangkut persoalan untuk apa pendidikan dilaksanakan? Dengan demikian, kerangka filosofis inilah yang akan menggiring kita pada penyusunanan strategi, tujuan, dan posisi atau peran pendidikan dalam konteks transformasi social.

Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan nasional sekaligus arsitek pendidikan yang brilian, mencoba merumuskan sebuah pandangan filosofis pendidikan yang berbasis pada kebudayaan manusia. Rumusan tersebut tergambar jelas dalam bukunya “Taman Siswa” yang dikenal dengan pancadharma, yaitu kodrat alam, kemerdekaan, kebangsaan, kebudayaan dan kemanusiaan.

Lima asas terrsebut diatas, mengandung arti bahwa hakekat manusia adalah bagian dari alam. Sedang sunnatullah (hukum alam) sebagai kodratnya ialah menuai kebahagiaan. Yaitu, apabila ia menyapa dengan mesra serta menyatukan diri dengan kodrat alam yang mengandung hukum kedinamisan. Asas kemerdekaan bisa di pahami bahwa kehidupan sejatinya sarat akan ketertiban dan kedamaian. Yaitu, mengembangkan kesadaran diri yang kuat dalam suasana harmonisasi dengan masyarakatnya. Asas kebudayaan berarti perlunya memelihara nilai-nilai dan bentuk kebudayaan nasional, asas kebangsaan bermakna seseorang haru merasa satu dengan bangsanya sendiri, yang tidak bertentangan dengan asas kedua pancasila, yaitu kemanusiaan. Terakhir, asas kemanusiaan mengarahkan pada pemahaman bahwa tidak boleh ada permusuhan bangsa-bangsa lain, sebab yang harus dikembangkan adalah keluruhan akan budi pekerti dan menimbulkan cinta kasih dan peduli kepada sesama dan lingkungannya.

Tranformasi nilai-nilai kemanusiaan

Humanisasi atau penumbuhan rasa kemanusiaan merupakan prasyarat utama dalam penyelenggaraan pendidikan. Jika terbukti tidak ditemukan tranformasi nilai-nilai kemanusiaan maka secara umum system pembelajaran hanya akan menjadi penajara yang penuh dengan aturan-aturan yang tidak membebaskan. Usaha penanaman penyadaran diri peserta didik atas dirinya sendiri dan realitas social sangatlah penting dalam mendukung pembumian niali-nilai kemanusiaaan itu. Sedang, peran guru, peserta didik, pengelola pendidikan, pemerintah dan orang tua juga harus  menjadi “supporter” solid dalam mendukung kembalinya pendidikan sebagai agent humanisasi. Mengapa demikian? Sebab, proses pendidikan itu membutuhkan thuliz zaman (proses yang panjang) dan melibatkan berbagai komponen serta kesadaran yang bersifat kolektif.

Dalam konteks ini, pendidikan dipandang sebagai proses adaptasi peserta didik terhadap lingkuang dan realitas dirinya. Pendidikan yang humanis, demokratis dan solutif harus selalu diupayakan dalam usaha melahirkan generasi ala Subbanul Yaum, Rijalul Ghot, pelajar hari ini adalah pemimpin (orang besar) masa depan.

Fakta social termasuk peristiwa-peristiwa kemanusiaan dalam konteks global yang dapat diakses melallui pengalaman langsung, media cetak, media elektronik, internet dan lain sebagainya. Semua itu merupakan lahan pembelajaran yang sangat penting untuk diteliti dan dikaji untuk kemudian ditemukan solusi-solusi bagi masyarakat tersebut.

Maka, pada situasi ini proses belajar seharusnya tidak hanya terpaku pada teks-teks dari buku saja, tapi juga peserta didik diarahkan untuk terjung langsung mencari pengalaman-pengalaman di masyarakat. Belajar sambil berbuat merupakan paradigma yang tepat untuk kerangka proses belajar yang demikian itu. Selaras dengan hal itu, proses belajar yang mengembangkan asas berfikir kreatif dan kritis dipusatkan pada kebutuhan belajar peserta didik, bukan terikat kurikulum hasil produksi birokrat yang diatur dalam jam-jam pelajaran saja. Selanjutnya, pendidik atau guru harus dipahami tidak sebagai Polisi pengawas kelas, tetapi sebagai fasilitator sekaligus anggota dari community of inquiry, yang bersaing dalam posisi sama yaitu sama-sama mencari kebenaran yang terus berkembang.

Menurut Mucthar Bukhori dalam bukunya Pendidikan Antisipatoris menulis, system pendidikan yang sehat selalu berusaha memahami zamannya dan berusaha pula memenuhi tuntunan-tuntunannya. Setiap system pendidikan yang dewasa selalu berusaha mempersiapkan masyarakat yang dilayaninya mengembangkan wawasan-wawasan baru untuk mengakomodasikan perubahan-perubahan yang akan datang.

Pendidikan Agama yang mencerahkan; menuju Pelajar Rahmatal lil ‘Alamin

Disadari atau tidak, persoalan agama semata-mata bukanlah satu aspek yang hanya membincang sisi vertical hamba dan sang Khalik saja, namun tinjauan horizontal hamba dan hamba yang lain sejatinya sangatlah diperlukan dalam membumikan prinsi-prinsip moralitas, kemanusiaan, dan toleransi. Pendidikan agama kini harus kembali menyakinkan dan menyegarkan pemikiran keagamaan bahwa agama hadir adalah sebagai Rahmatal lil ’Alamin, memberi rahmat seluruh penghuni alam semesta ini.

Kembali pada konteks ke Indonesiaan, satu persoalan yang dilematis adalah model pembelajaran di sekolah-sekolah, madrash, pesantren yang lebih menekankan pada sisi materil saja; agama jumlahnya banyak dan yang benar adalah agama yang dipeluk si A dan si B. pengetahuan-pengetahuan kognitif semacam ini, cenderung berpotensi memberi efek apatisme peserta didik, baik dalam aspek spiritualnya, lebih-lebih aspek social sebagai bentuk dari kesalehan social yang harus dimilki oleh mereka yang meyandang jabatan sebagai tholibul Ilmi sejati. Maka wajar saja jika apabila peserta didik kurang memiliki sensitivitas sosial, seperti fenomena sosial, peristiwa-peristiwa kemanusiaan, bencana alam dan lain sebaainya. Nah, dalam situasi inilah pendiddikan agama dinilai kehilangan spirit sosialnya, yang oleh Abdul A’la dalam tulisannya yang dimuat Kompas (22 April 2002), menyebutkan bahwa model pendidikan yang demikian itu hanya akan mejadikan manusia menjadi “terasing“ dengan agamanya, bahkan dengan kehidupan itu sendiri. Mereka mengenal agama sebagai persoalan yang hanya penuh dengan doktrinasi kebenaran sepihak, yang kemudian memasung mereka pada pemahaman agama yang bersifat legal-formalistik, seperti agama hanya berkaitan dengan persoaln-persoan halal-haram, iman-kafir, surge-neraka dan lain sebagainya. Sedang spirit sosial yang dibawa agama terbenam dan  terbengkalai, tidak tersentuh secara serius. Teks-teks suci yang dibaca setiap hari, tidak terwujud aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai ikhtitam dari tulisan ini, saya berpesan pada diri saya sendiri dan umumnya pada pemerhati bumi pendidikan Indonesia, bahwa dinamika keilmuan manusia tidaklah bisa dilepaskan dengan dinamika perkembangan zaman yang ada. Karena kenyataannya masyarakatpun akan selalu ikut berkembang seiring dengan pemikiran manusia yang dinamis itu. Maka marilah kita kembalikan spirit sosial pendidikan agama dalam mengawal dan merespons persoalan-persoalan masyarakat yang dilematis. Sehingga misi utama agama sebagai Rahmatal lil ‘Alamin dapat digapai dimasa mendatang, yang berpangkal pada spirit agama dan etos kerja keilmuan. Akhirnya, jika pendidikan agama mengajarkan semangat Rahmatal lil ‘Alamin, maka tidak mustahil jika pelajarnya pun akan menjadi agent Rahamatal lil ‘Alamin  pula. Ya, pelajar yang peka terhadap masyarakat, abdi baktinya hanya untuk tanah lahirnya semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s